Kami berdua saling menatap dalam diam. Aku memandangnya, dan detik itu terasa begitu nyata-Hansen dengan setelan jas pernikahan, momen yang begitu sering terlintas dalam benakku sejak lama. Kini, dia benar-benar berdiri di sana, mengenakan setelan yang serasi dengan gaunku. Tak kuasa air mataku menetes. Bukan karena sedih, tapi bahagia... aku bahagia karena akhirnya, takdir hidup kami berujung di sini, bersama.
[Keisan dan Hansen telah bersahabat sejak mereka berusia 10 tahun, tumbuh bersama dari sekolah dasar hingga kuliah. Saat di tahun kedua kuliah, hubungan mereka berkembang menjadi lebih dari serius, dan mereka mulai berpacaran. Namun, ketika mendekati kelulusan, mereka memutuskan berpisah, dan Hansen menghilang dari kehidupan Keisan. Selama 3 tahun berikutnya, mereka masih sering bertemu, bahkan di tahun kedua dan ketiga menjadi dekat kembali sebagai teman. Namun, pada ulang tahun ke-25 Keisan, Hansen menghilang lagi, kali ini benar-benar tanpa jejak. Setelah lima tahun berlalu, mereka bertemu kembali, dan perasaan cinta Keisan pada Hansen masih belum berubah.
Teman-teman bilang, kisah cinta gue itu pasaran. Naksir tapi cuma bisa memendam (kalo lo bilang gue pengecut, itu artinya bukan hanya gue aja yang lo judge tapi juga jutaan cewek yang naksir diam-diam).
Sebenarnya sih itu udah kelewat lumrah. Yang langka terjadi di realita adalah.... punya sahabat berbeda jenis (cowok cewek maksudnya) dan parahnya lo naksir dia!
Yupss. Itu yang sedang gue alami. Percayalah, rasanya berjuta kali lebih nggak enak dibanding lo naksir cowok terkeren di sekolah. Seakan ada sesuatu yang salah dan nggak pada tempatnya. Wajar sih, karena memang nggak seharusnya ada rasa "cinta" di tengah persahabatan.
Tapi mau gimana lagi? Beruntung buat gue kalo perasaan itu melekat di kedua pihak. Nah, kalo nggak?
Kan sakit.
***
Peniu.