Di balik tuts piano, Lyne Aishlynne Sforza merangkai harmoni dari kesunyian yang terabaikan.
Setiap akor menggambarkan penolakan yang menyakitkan, sementara nada-nada terlarang membawanya jauh dari kenyataan.
Dalam simfoni sunyi, dia menari antara dinamis dan legato, mencari makna di antara ketukan yang tersembunyi. Namun, saat crescendo mencapai puncaknya, dia dihadapkan pada pilihan: tetap terjebak dalam irama ilusi atau berani menghadapi disonansi yang menanti.
Akankah melodi ini membebaskannya atau justru mengurungnya dalam kegelapan?