From friends to love

From friends to love

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 20, 2024
Vera dan Edward sudah bersahabat sejak kecil. Kami tumbuh bersama, bermain bersama, bahkan sering berbagi mimpi tentang masa depan. Tak pernah terpikir olehku, bahwa suatu hari, perasaan yang kupendam akan berubah. Hari itu sama seperti hari-hari biasanya. Kami berdua duduk di bangku taman, mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, kehidupan, hingga rencana liburan. Namun, di tengah tawa kami, Vera mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Cara Edward tertawa, cara dia melihatku—semua terasa lebih hangat dari biasanya. Ada getaran aneh di dadaku yang tak bisa kuabaikan. “ra , kamu kenapa? Kok bengong?” tanya Edward, menyikut lenganku. Vera tersentak. "Enggak, enggak apa-apa," jawabku cepat, berusaha menutupi kegugupanku. Tapi dalam hati, Vera tahu. Ada sesuatu yang berubah. Dan aku tak yakin, apakah ini baik atau malah akan menghancurkan semua yang telah kami bangun selama ini. Apakah Vera siap mempertaruhkan persahabatan kami untuk sebuah perasaan yang belum tentu berbalas?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Brothers
  • Baby Boy (FreenBecky)_K.4 END
  • MATCH MADE IN HEAVEN 2 (SELESAI)
  • That driver is my wife. [𝙀𝙉𝘿]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • STILL IM SURE WE LOVE AGAIN
  • After Last Night (END)
  • Sebuah Penyesalan
  • Nuginara [END]
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines