Rumah kecil tiur

Rumah kecil tiur

  • WpView
    LECTURES 51
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., janv. 17, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
sinar matahari lembut memaksa untuk menerobos masuk kedalam celah jendela kamar gadis berusia 17 tahun itu, matanya perlahan mengerjap merasakan hangatnya sinar matahari dan dalam hitungan detik kemudian matanya mulai terbuka sempurna. "Huuuft, kenapa aku harus kembali membuka mata. Padahal aku ingin mata ini tertutup untuk selamanya" Gumam nya lirih. Bagaimana kah kisah kehidupan gadis itu sehingga ia tak ingin kembali terbangun dari tidur nya? Dan apa yang paling ia benci dalam kehidupannya?
Tous Droits Réservés
#87
kehancuran
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Complete (END)
  • PROMISE
  • BROKEN : The secret of life
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Sudut Temu Wenrene
  • Memories in Moon
  • Broken Silence [SEULRENE]
  • Qalbu {Terbit}
  • Garis Singgung
  • Make (me) Up ! ; seulrene ✔

"Ya, kau tidak punya mata? Lihat, buku ku jadi kotor!" Sosok yang sedang membersihkan seragamnya tersentak kaget mendengar pekikan tersebut. Matanya berkedip tidak percaya. Heol, jelas-jelas dia yang korban disini. Mengapa jadi dia yang di salahkan? Memberanikan diri, dengan perlahan dia menatap gadis bertopi di hadapannya itu. Seketika gadis berseragam sekolah itu menelan salivanya susah payah mendapati tatapan tajam di balik kacamata hitam tersebut, seakan siap menerkamnya saat ini juga. "J-jongsahamnida. Nde, aku yang salah," Yeri membungkuk dalam. Hanya cara ini yang terpikirkan olehnya. Yap. Gadis itu adalah Yeri baru saja pulang sekolah. Dia memutuskan untuk membeli minuman susu di tempat favoritnya sebelum pulang ke rumah. Tapi malah berakhir seperti ini. Joohyun menggeram kesal sambil melepas kacamatanya, mencoba menahan amarahnya yang siap meledak. "Aish, bisa-bisanya kau membuat ku kesal seperti ini," Hari pertamanya di kota kelahirannya saja sudah di sambut dengan hal seperti ini. Bagaimana kedepannya nanti?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu