We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Pukul 7

Pukul 7

  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Nov 4, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Pukul tujuh malam di ruang tamu keluarga Shankara. Radio tua itu berbunyi, seperti biasa. Lima orang berkumpul mengelilinginya - sebuah ritual yang tak pernah terlewat. Ibu dengan buku catatannya. Bapak yang baru pulang mengajar. Pahat sibuk dengan PR matematikanya. Nika mengetuk-ngetuk jari mengikuti irama. Dan Yaksa, si bungsu yang tak pernah melepaskan mainan kecilnya. "Selamat malam para pendengar setia Suara Hati di 89.4 FM. Saya, Sang Pendengar, kembali menemani Anda..." Ibu tersenyum tipis, menulis sesuatu di bukunya. Bapak berdehem pelan, memejamkan mata. Tak ada yang bicara - seolah takut merusak momen ini. "Surat malam ini..." Sang Pendengar terdiam sejenak. "dari seseorang yang kehilangan suaranya." Yaksa mendadak menggenggam mainannya lebih erat. Nika berhenti mengetuk jari. Pahat tak lagi membalik halaman bukunya. Ibu menghentikan penanya. Dan Bapak... tangannya gemetar. Malam itu, radio tua mereka mulai membongkar rahasia yang selama ini tersembunyi di balik ritual pukul tujuh
All Rights Reserved
#93
sulung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Puing luka
  • I FOUND YOU S2
  • DIKANESHA
  • Aralie, Maafkan Aku
  • Diary
  • PROBLEM || KIM SUNOO (REVISI)
  • Lil'sist
  • Dalam Diam | Hiatus

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines