Di bawah langit yang selalu tampak mendung, tujuh remaja terikat oleh satu benang merah yang sama: luka yang mereka sembunyikan di balik seragam sekolah yang rapi. Arkan adalah pemimpin yang retak; ia menjaga keutuhan kelompoknya saat rumahnya sendiri hancur berkeping-keping. Di sisi lain, ada Liora, gadis yang belajar tersenyum di tengah badai psychological yang menghimpitnya setiap malam. Bersama lima sahabat lainnya, mereka membangun "benteng" sendiri di sebuah gudang tua sekolah-tempat di mana tangis tidak dilarang dan tawa tidak dipalsukan. Ini bukan sekadar cerita cinta monyet di kantin. Ini adalah tentang bagaimana mereka bertahan hidup ketika orang tua menjadi orang asing, ketika sekolah menjadi medan tempur, dan ketika satu-satunya cara untuk tetap tegak adalah dengan saling berpegangan tangan dalam gelap. Sanggupkah mereka terbang bersama saat sayap masing-masing telah patah?
More details