Deberìa Redirme? (End)

Deberìa Redirme? (End)

  • WpView
    LECTURES 32,260
  • WpVote
    Votes 975
  • WpPart
    Chapitres 23
WpMetadataReadTerminé mar., juin 17, 2025
WpInfo
Fiction
Thèmes Sociaux
Abus & Traumatismes
Vie de Famille
Santé Mentale & Neurodiversité
"Apakah Harsa gak boleh punya rumah?" "Kenapa Harsa harus selalu sendirian?" "Nama Harsa, gak cocok buat aku yang cuma bawa bala" "Kenapa, kenapa cuma Harsa yang gak bisa negrasain bahagia. Kenapa ayah selalu mukul Harsa, kenapa Mama tega ninggalin Harsa sendiri. Sedangkan Kak Dirga dan Kak Darsa sama aja! Sama-sama gak pernah nganggap Harsa sebagai saudara. Lalu, adakah alasan untukku bertahan?" Harsa, seorang pemuda bernamakan kebahagiaan yang bahkan belum pernah dia rasakan sekalipun. Deberìa redirme? Haruskah aku menyerah? Ketika rumah bagaikan sebuah neraka. Tempat pulang sesungguhnya dihancurkan begitu saja. Aku harus kemana? Cerita tentang seorang pemuda dengan beribu derita, beribu asa akan harsanya. Start writing: 27 Oktober 2024 End: 12 Mei 2025 Gak nyangka bisa selesai please... hehehe Ini udah tamat ya guyss TAMAT Jangan nungguin lagi, mending nungguin karya baru aku aja. Tahun depan tapi heheheh
Tous Droits Réservés
#233
tersiksa
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Pull Me Out!
  • Altruisme
  • Mengalah? Gak papa (END)✔
  • RUMAH TENGAH
  • The Book Of H
  • SAHASIKA
  • A-Z ✔️
  • Harsa Alchandra (TERBIT)
  • Our Emergency Calls

Seorang wanita bernama Farsya yang berjuang untuk sembuh dari Taruma. "Aku ingin pulang.. namun aku tersadar, bahwa aku tak memiliki rumah untuk pulang." Putt me out of the train wreck! Farsya, pembohong handal menipu lara. jiwanya terbiasa sakit tanpa disembuhkan, terbiasa kecewa tanpa ditenangkan, dan terbiasa sedih tanpa pelukan. Dia begitu takut pada dirinya sendiri.. Katanya "senyumanku manis, tawaku riang. Aku seperti manusia tanpa celah musibah. Selalu diberkati berkah, hingga dicap takkan pernah mengerti rasa ingin menyerah. Aku diam meski ada luka yang ingin berbicara, aku tersenyum-senyum meski dipeluk penuh air mata." ...

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu