Bunga di Tengah Perjalanan

Bunga di Tengah Perjalanan

  • WpView
    Reads 97
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 22, 2024
Utamakan vote! Pernah gak kalian kedip sebentar beda dunia, mana gak ada petunjuk sama sekali. Mau nangis gak ngebantu, gak nangis udah capek. Tapi ya jalanin sajalah. 'Kan yang seperti udah dibilang tadi, pindah dunia. Tapi habis nangis orang mah di dunia lain cari jodoh ya? Ni bocah malah cari duit jualan sempak, Arianwen gak ding, Meira gadis mageran yang hobi halu di kamar yang barengan dengan adiknya mengalami kejadian hoki, sial lebih tepatnya setelah dia puas-puas lihat cogan di pin. Cekikikan gak jelas walaupun mati lampu dengan kasurnya yang isinya barang-barang lamanya yang mau dia seleksi untuk diberikan ke neneknya yang hobi koleksi sampah. Tidak tahu saja, sepertinya Tuhan sudah bosan melihat Meira malas-malasan dan tidak produktif di masa remajanya sehingga dia dilempar ke dunia baru yang akan setidaknya membuatnya mengerahkan sikil-eh skillnya sedikit walaupun kadang tidak bermanfaat. Namun benarkah Tuhan hanya membiarkan itu terjadi seolah-olah keajaiban? Atau malah suatu kesialan? Who knows. Novel yang kebanyakan narasi, jadi maklum kalau dialognya cuma seuprit Cover bukan karya saya tapi pin, gak percaya? Ya udah🗿
All Rights Reserved
#278
dunialain
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • Suddenly Becomes Samara In The Novel
  • Istri Mas Duda  [End]
  • Untung Sayang
  • Asa Di Putih Biru (END)
  • Mahkota [The Circle Series #1]
  • Constellations From The Room
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Glitch

Hidup adalah panggung, dan setiap orang mengenakan topeng. Beberapa topeng begitu sempurna hingga bahkan pemakainya lupa wajah aslinya. Tawa bisa menjadi tirai, senyum bisa menjadi ilusi, dan kata-kata "Aku baik-baik saja" bisa menjadi kebohongan yang paling menyakitkan. Ini adalah kisah tentang seseorang yang menjalani hari-hari seperti biasa, seperti semua orang lainnya. Ia tertawa bersama teman-temannya, membantu keluarganya, mengisi waktunya dengan hobi, dan menjalani hidup seperti yang seharusnya. Tapi di balik semua itu, ada kehampaan yang tak terjelaskan, ada luka yang tak terlihat, ada pertanyaan yang tak pernah terjawab. Bagaimana rasanya hidup tanpa benar-benar merasa hidup? Bagaimana rasanya berjalan di dunia ini, tetapi tidak pernah benar-benar berpijak? Dan bagaimana jika, suatu hari, semuanya terasa terlalu berat untuk dilanjutkan? "Biarlah" bukan hanya sebuah cerita. Ini adalah perjalanan di antara cahaya dan kegelapan, kebahagiaan yang palsu dan kesedihan yang nyata, antara eksistensi dan kehampaan. Ini adalah kisah yang mungkin terlalu dekat dengan kenyataan-dan mungkin, terlalu sulit untuk diabaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines