Putri Tomboi Dan Kesatria Vampir

Putri Tomboi Dan Kesatria Vampir

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 28, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Di sebuah kerajaan hiduplah seorang putri yang memiliki rambut pirang panjang dengan mata biru berkilau. Dia selalu membuat masalah dan mendapatkan julukan putri tomboi dari orang-orang. Di sisi lain ada seorang kesatria yang cukup misterius, dia selalu dekat dengan Raja yang merupakan ayah dari putri tomboi tersebut. Suatu ketika terjadi sebuah invasi dari ras iblis, sehingga Raja memerintahkan kesatria itu untuk membawa putri satu-satunya pergi agar bisa selamat. Tetapi, sang putri enggan menuruti perintah ayahnya, hingga pada akhirnya dia harus mengalami kejadian pahit tepat di depan matanya. Dalam rasa keputus-asaan putri itu terduduk meratapi nasib, jiwanya memendam kebencian yang besar terhadap ras iblis. Pada akhirnya Putri itu bertekad untuk membalas para iblis keji yang menghancurkan kerajaannya. Petualangan Putri Tomboi dan Kesatria Misterius dimulai!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Princess of Perseus
  • Villainess Illusion [HIATUS]
  • The Spesial Bride of Dragon
  • Pena Menentukan Takdir Part 1
  • Mirror, Mirror | ✓
  • fated in darkness
  • Reborn As a Lazy Villainess (Seri 2)
  • Darolent Academy : Lost Darold Princess
  • ASRAR [TERBIT]

Aula Aetherium bergema oleh napas lega, panji-panji tua menggantung seperti saksi bisu di atas sosok berlutut yang namanya telah berlari mendahului kebenaran, dan aku berdiri di antara mereka, menyaksikan para pemegang kuasa dan mereka yang percaya mengukuhkan keyakinan menjadi perayaan, seolah ketakutan dapat diakhiri dengan memenggal seorang manusia. Ketika algojo mengangkat pedangnya dan sebuah suara berbisik, "Dialah yang akan mengakhiri dunia ini," kata-kata itu jatuh ke dadaku bukan sebagai keadilan, melainkan sebagai restu untuk berhenti bertanya. Aku telah membaca lembar demi lembar masa lalu, menautkan jejak yang terserak, mengikuti kisah itu hingga semuanya menunjuk ke titik ini, namun pada saat sorak membumbung dan bilah pedang tertahan di udara, yang kurasakan hanyalah sunyi yang ganjil, kehampaan yang dingin, seakan kebenaran telah melintas pergi sementara kami sibuk menyepakati wujudnya. Lelaki itu tak menyerupai akhir, ia lebih tampak seperti jawaban yang disusun dengan rapi agar tak ada lagi pertanyaan yang perlu diselamatkan, dan ketika kerumunan menuntut darah, aku terlambat menyadari bahwa Aetheria masih runtuh di bawah keyakinan kami sendiri. Sebab apa pun yang benar-benar mematahkan dunia ini tak pernah berlutut di hadapan kami. Ia berdiri tanpa nama di antara sorak-sorai, tenang, tak terlihat, dan menang. Dan baru kelak kami mengerti, hari itu bukanlah awal keselamatan, melainkan saat ketika sesuatu yang jauh lebih sunyi akhirnya dibiarkan bebas.

More details
WpActionLinkContent Guidelines