Suara di Dalam Diam

Suara di Dalam Diam

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 30, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Malam itu, di dalam kamarnya yang remang-remang, Dara duduk di sudut tempat tidur, dikelilingi oleh keheningan yang menyesakkan. Dinding-dinding yang menyusutkan suara dunia luar membuatnya merasa aman, tetapi juga semakin terasing. Suara detakan jam dinding menjadi satu-satunya pengingat bahwa waktu terus berlalu, sementara pikirannya dipenuhi bayangan kelam dari masa lalu. Tahun-tahun berlalu sejak terakhir kali ia membuka hati. Trauma yang membekas, luka yang tak kunjung sembuh, telah mengajarinya untuk menjauh dari cinta. Setiap pertemuan, setiap tatapan, hanya menyisakan rasa takut yang menyesakkan. Perasaannya, seperti sebuah rahasia yang terperangkap dalam kegelapan, tak pernah bisa diungkapkan kepada siapa pun. Namun, di tengah kesepian yang menyesakkan, sebuah pesan anonim muncul di layar ponselnya. Seorang laki-laki yang tak dikenal, yang ternyata juga menyimpan cerita luka. Dara mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang - kepercayaan dan harapan. Perlahan, dinding-dinding yang dibangunnya mulai runtuh, memberi ruang bagi perasaan yang sempat terkubur. Namun, cinta sering kali datang dengan cara yang tak terduga. Dan ketika ia akhirnya berani melangkah, ia tak menyangka bahwa jalan yang dipilihnya mungkin hanya akan membawanya lebih dalam ke dalam kegelapan. Karena terkadang, luka yang tak terlihat adalah yang paling menyakitkan. Happy Reading!
All Rights Reserved
#4
cemas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Semua Tentang Kita (STK) ✔️
  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • 𝐋𝐚𝐤𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐁𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐫𝐞𝐝𝐮𝐩 (𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭)✔️
  • Epiphany [Completed]
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • Pieces of You

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines