Dear. Alana
Di sekolah, Alana adalah sosok yang mengerikan. Ia merundung siapa pun yang terlihat menonjol, sebuah perilaku kejam yang sebenarnya adalah topeng untuk menutupi jiwanya yang terjajah.
Di balik punggungnya, ada Papi dan Maminya yang otoriter yang menuntut dominasi mutlak.
Seorang Papi yang memikul beban berat untuk memastikan putri tunggalnya mendapatkan "hak" kekuasaan keluarga.
Maminya yang lembut seringkali mencoba memberi arahan, namun suaranya selalu tenggelam oleh ketegasan yang membungkam.
Namun, masa lalu yang kelam itu kini mengejarnya. Alana terjepit dalam rahasia yang bisa menghancurkan reputasi keluarga besarnya yang diagungkan: ia hamil.
Malam itu, di sebuah klub malam yang bising, takdir mempertemukannya dengan Leon. Leon adalah seorang yatim piatu perantau yang baru saja kehilangan pekerjaannya karena berselisih dengan orang berpengaruh.
Di titik terendah hidupnya, saat ia tidak tahu harus makan apa esok hari, Alana mencegatnya di tengah kegelapan.
Dengan suara bergetar dan napas memburu, Alana mengucapkan kata yang mengubah hidup mereka berdua: "Aku H-Hamil."
Alana menawarkan kesepakatan gila: Leon harus berpura-pura menjadi ayah dari bayi di kandungannya di hadapan keluarga besarnya yang haus kuasa. Bagi Leon, ini adalah pelampung sekaligus jerat leher. Ia butuh uang untuk bertahan hidup di kota yang kejam ini, namun ia tahu siapa keluarga Alana.
Leon menatap mata Alana yang penuh ketakutan, lalu mengajukan satu syarat mutlak sebelum kesepakatan terjalin.
Kini, keduanya berdiri di depan pintu gerbang rumah besar yang tampak seperti penjara berlapis emas. Sebuah sandiwara besar dimulai, di mana nyawa menjadi taruhannya.
Semuanya dimulai saat Papinya memberikan mereka hidup di atap yang sama. Bagaimana bisa mereka satu rumah?