SENJA APRILLIA

SENJA APRILLIA

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 6, 2024
Senja Aprilia Sander anak yang manis dengan lesung pipinya dan juga mata yang sipit menyimpan rasa luka dan trauma yang dalam.. Fisik senja sempurna,namun tidak dengan mentalnya.. Inilah kisah nyata Senja Aprillia yang di benci keluarga kandungnya sendiri dan juga anak yang kehilangan arah hidupnya dan tujuan hidupnya sendiri dan juga telah kehilangan jati dirinya yang sebenarnya. Anak terakhir tetapi kekurangan kasih sayang dan cinta dari keluarganya. 50% kisah nyata dan 50% terinspirasi dari cerita lain (kemungkinan begitu). "Aku masih kecil,tapi aku harus berusaha dewasa". _Senja Aprillia_
All Rights Reserved
#38
prestasi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudut Luka Nazea
  • Permainan Takdir [TAMAT]
  • NESTAPA [On Going]
  • Hukum Untuk Senja [Hiatus]
  • SENJA TERAKHIR[Hiatus Sementara]
  • Seminggu sebelum aku mati (End)
  • Waiting Room [TERBIT]
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • BLUE HOUR (Rona Senja di Langit Biru)

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines