true or false 1 (Blm Di Revisi)

true or false 1 (Blm Di Revisi)

  • WpView
    Reads 1,450
  • WpVote
    Votes 923
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadComplete Sat, Feb 1, 2025
Semua takdir yang terjadi telah dirancang oleh sang pencipta. Lantas mengapa sang pencipta seolah jahat? Mengapa membiarkan seorang gadis kecil tumbuh dengan keadaan yang tak baik? Dipaksa dewasa oleh keadaan. Dipaksa tegar tanpa ada tempat untuk bersandar. Rasa kehilangan seperti tak bisa lepas darinya. Kehilangan kedua orang tua beserta adiknya telah cukup membuatnya merasa seorang diri terlantar di dunia. Satu kejadian dimasa kecilnya rupanya telah mempertemukannya kepada seseorang yang menganggapnya seperti teman baiknya. Usia yang telah dewasa membuatnya mulai mengerti jika rupanya ia memiliki rasa yang lebih dari sekedar teman. Namun rupanya gadis itu terlambat memahami semuanya sebab temannya itu telah jauh di negeri lain 'Satu tahun yang terasa seperti bertahun-tahun, terulang kembali'.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terlalu Baik dalam Ruang Kosong
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Alur Kehidupan [REVISI]
  • SALVA
  • Penuh Luka (On Going)
  • If I Had to Choose
  • Menolak Lupa
  • 7 Seconds

Kalingga selalu dikenal sebagai anak baik. Senyumnya hangat, tutur katanya lembut, dan ia tak pernah menolak untuk membantu siapa pun. Tapi tak ada yang benar-benar tahu di balik semua kebaikan itu, Kalingga menyimpan luka yang dalam, kesepian yang sunyi, dan kelelahan yang tak terlihat oleh siapa pun. Ia tumbuh sebagai people pleaser, memendam keinginan dan perasaannya sendiri demi diterima, disukai, dan dianggap cukup. Namun saat tekanan batin mulai menggerogoti, tubuhnya pun ikut menyerah. Kalingga didiagnosis mengidap penyakit autoimun, dan untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan segalanya mulai dari nilai hidupnya, arti kebahagiaan, dan mengapa kebaikan yang ia beri tak pernah cukup untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Di tengah keputusasaan, sebuah telepon datang membawa kabar yang mengguncang dunianya. Ibunya, yang selama ini dikatakan telah meninggal, ternyata masih hidup. Dari situlah perjalanan Kalingga berubah menjadi pencarian akan kebenaran, jati diri, dan cinta yang selama ini ia cari di tempat-tempat yang salah. Novel ini adalah potret tentang luka-luka yang tak terlihat, tentang keberanian untuk berhenti menyenangkan semua orang, dan tentang cinta tanpa syarat yang terkadang baru ditemukan saat segalanya runtuh. Dan saat semuanya berakhir, satu pertanyaan tetap menggantung apakah Kalingga akan menemukan dirinya yang sesungguhnya, atau justru kembali tenggelam dalam bayang-bayang orang lain?

More details
WpActionLinkContent Guidelines