We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
what if we cross the line ?

what if we cross the line ?

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 12, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Tagsfiksi
"Kamu nggak bakal ninggalin aku, kan?" suara sahabat kecilnya berbisik, lirih namun terasa dalam. Vajela hanya mengangguk, membalas dengan senyum kecil, menyematkan janji yang ia pikir akan selalu bisa ia pegang. Tapi hidup punya caranya sendiri untuk memisahkan mereka. Suatu hari yang tak terduga, Vajela harus meninggalkan kota itu, meninggalkan taman itu, dan meninggalkan janji yang tak pernah sempat ia lunasi. Yang tersisa hanyalah secarik surat kecil, pesan sederhana dari seorang anak yang terlalu cepat pergi sebelum sempat berpamitan. Kini, bertahun-tahun kemudian, Vajela kembali menjejakkan kaki di Bandung. Kota ini masih sama, dengan pohon besar di taman kecil yang menyimpan kisah-kisah masa lalu mereka. Di tengah udara sejuk dan aroma hujan yang khas, ia bertanya-tanya dalam hati-masihkah sahabat kecilnya mengingat janji itu? Atau mungkinkah kenangan mereka telah larut bersama waktu? Di kota ini, kisahnya dimulai kembali.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Nostagia dalam perjalanan
  • Arkan & Bandung
  • HALOALKANA
  • Behind After
  • HUJAN YANG MEMBAWAMU KEMBALI
  • CHRISTIAN EL DANDELION [ The End ]
  • Kamu Milikku
  • Kebahagiaan di Bandung (Aralynn X Larine)

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines