Mimpi di Bumi Majapahit

Mimpi di Bumi Majapahit

  • WpView
    Reads 162
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 6, 2024
Layaknya sebuah fantasi pada alam mimpi, ketidaksengajaan akibat kecerobohanku menyeret diriku kedalam sebuah cerita. Kemudian aku menemukan sebuah nama indah diantaranya. Sebuah nama yang mampu mengalihkan semua dunia nyataku untuk tetap berada di tempat dia berasal dan tak ingin kembali ke duniaku. Seseorang yang biasa disebut sebagai sang-palapa bukan karena dia seorang Mahapatih Gajah Mada yang mengucapkan sumpah amukti palapa atau apa, tetapi karena dia dapat 'menarik hatiku'. Rambut panjang hitam legamnya yang selalu digulung keatas khas laki-laki zaman dahulu, wajahnya yang baswara di bawah terpaan cakrawala senja, dan kulitnya yang seperti madu. Dialah rupa sempurna di bentala ini. Jangan tanya kan tutur katanya yang sedikit menusuk namun tersirat kelembutan didalamnya. Tak ada ragu dalam setiap kata yang diucapkannya. Aku terjebak disana. Menjadi saksi bisu sejarah yang sering aku baca namun tak pernah ku sangka. Tragedi kejam dan simpahan darah atas polemik sang penguasa. Candramawa, itulah namaku. Anggap saja begitu yaa... Akan aku tuliskan bagaimana kami bertemu, bagaimana kami memulai sebuah kisah yang berlandas balutan romansa. Namanya adalah Candala, dan bagaimana Candramawa itu menarik hati sang Candala.
All Rights Reserved
#324
majapahit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
  • The Perfect Bouquet
  • Once Upon a Dream
  • SEBILAH REMBULAN - 𝗢𝗡 𝗚𝗢𝗜𝗡𝗚
  • Lain Dunia (Tamat)
  • ⋋⁠✿Kehidupan Anak Nusantara✿⁠⋌
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • Lintang Di Langit Majapahit [END]
  • PITALOKA | Sekala Ruang Renjana

"Ayah!! Betapa teganya kau lakukan itu padaku!" isaknya. Tangan resi Wisrawa terjulur. Ingin rasanya memeluk putra kesayangannya. Namun rasa malu yang sangat menghalangi laju tangannya. "Ayah tidak berani meminta maaf padamu, nak. Ayah berdosa besar pada kalian." katanya lirih. Air mata menetes dari matanya. "TIDAAKK!! Bunuh saja aku, ayah! Oh, masihkah aku bisa memanggilmu ayah setelah perbuatan bejatmu padaku ?" Resi Wisrawa terkesiap mendengar kata-kata Danaraja. Ia menunduk. "Ayah tidak berhak mendapat panggilan ayah darimu. Ayahmu kotor dan bernoda.." "Bagus kalau kau mengakuinya !! Kalau begitu kita bertarung secara satria. Aku bukan anakmu, kau bukan ayahku. Ayo, keluarkan kesaktianmu! Aku tidak takut padamu !" Resi Wisrawa terkejut walaupun dalam hati ia sudah memperkirakan respons anaknya ini. Danaraja menghunus pedangnya. "Ayo kita bertarung ! Kau atau aku yang mati!" Ia menyerang ayahnya. Resi Wisrawa mengelak. Danaraja menyabetkan pedangnya kekiri kekanan, ia terus memburu kemana ayahnya pergi mengelak. Energi murni yang keluar dari tangannya menderu-deru dengan kekuatan berkali lipat akibat amarah yang membumbung tinggi. Kepalanya serasa terbakar oleh emosi. Ia merasa tidak hanya kehilangan kekasih yang dicintainya, tapi juga harga dirinya sebagai laki-laki. __________________________________ Betapapun sempurnanya manusia, manusia tetap manusia yang memiliki kelemahan. Ia seorang pertapa tua yang mengikuti sayembara seorang putri cantik untuk putranya. Tapi pergaulan erat antar laki-laki dan perempuan membutakan pikiran dan nafsu. Kisah cinta bercampur dengan ilmu falsafah tinggi antara kedua manusia yang nantinya melahirkan manusia angkara murka yang paling terkenal di dunia, Rahwana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines