Rainy Day On Saturday [ END ]

Rainy Day On Saturday [ END ]

  • WpView
    Reads 325
  • WpVote
    Votes 198
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 25, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Hujan di bulan Februari tuh aneh. Masa, hujan cuman hari Sabtu aja, nyebelin! --- Hujan di hari libur, sungguh anugerah terindah. Bisa kembali bergelung dengan selimut tanpa harus memikirkan sekolah atau pekerjaan. Namun, hal itu tak berlaku pada seorang gadis dengan rambut yang sudah lurus bergelombang itu. "Sumpah ya! Kenapa harus Hujan sih!" "Ini kan hari Sabtu, harusnya cuaca cerah dong! Hari libur waktunya liburan, hari libur kok di rumah." Narla, gadis itu memiliki rutinitas setiap hari libur akan berjalan-jalan sendirian. Namun, hujan terkadang menggangu rutinitasnya itu. Terlebih di bulan Februari, entah kenapa hujan selalu turun di hari favoritenya itu. Tapi, hal itu tak menghentikannya, ia tetap pergi sambil menggunakan payung ibunya. Tapi, entah kenapa. Setiap hujan di hari Sabtu bulan Februari, Narla selalu bertemu dengan pemuda berpayung hitam. Awalnya Narla tak ambil pusing, namun seiringnya waktu, ia mulai penasaran padanya. Lelaki berpayung hitam, di Sabtu hujan. ---
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines