Insane Death Angel (Pendosa)

Insane Death Angel (Pendosa)

  • WpView
    Reads 166,360
  • WpVote
    Votes 8,167
  • WpPart
    Parts 45
WpMetadataReadComplete Thu, Oct 20, 2016
Amarah dan Tangisan dalam hati Sarah begitu riuh, hingga ia tak mampu mendengar hati nuraninya yang meneriakkan agar Sarah memberi ampunan bagi mereka yang menyakitinya. Setelah menuruti kepedihannya, Amarah itu tak riuh lagi namun terdiam lalu ikut menjerit bersama Tangisan. Pada akhirnya, Sarah menyesal dan hati nuraninya hanya berkata "Sudah kubilang, namun kau tak mau mendengar," dan Sarah pun menjadi seorang Pendosa. Malaikat Maut yang Gila. Ia tak bisa berhenti, namun meneruskan apa yang sudah terlanjur ia mulai: menjadi seorang pendosa hingga waktu menjemputnya. Akankah Tuhan memberi ampunan? Cerita ini mengalami banyak perubahan yang lebih baik tentunya! Ayo, baca lagi! ----------------------------------------------------------------------------------------- Read, vote, and comment! Happy reading!
All Rights Reserved
#301
laga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DEVOTEE DEVIL {END} ✓
  • Neglectus
  • GREYZIA
  • Cinta Haluku Menjadi Nyata
  • SYA
  • Lingering Sadness
  • Air Mata Elara
  • Fiana Or Riana [ END ]
  • Promise or Leave

"Wahai penguasa kegelapan, lindungilah kami dari petaka yang kau hadirkan." Daniel Davicky kehilangan cahaya kehidupannya tepat setelah kematian sang ibunda. Bagai seorang tuna netra, ia tak mampu lagi menelaah seisi dunia. Gelap gulita, sampai sebuah tarikan membawanya ke dunia yang lebih gelap lagi. Namun, ada kobaran api yang menjadi sinar menerangi naluri. "Malaikat Agung, Malaikat Kegelapan Pinjamkan lah aku cahayamu Melalui tabir Kematian Hingga Surga terlihat!" Dendam, dengki, caci maki, dan segala hal keji menjadi racun menggerogoti diri. Sudah lumrah sebagai makanan sehari-hari. Sosok penolong sudah pun berganti. Kala mentari terbit di timur, disitulah ia menggemakan syukur. Bukan pada sosok sang maha, melainkan pada sosok penguasa. "Ketika dunia memberi penderitaan, kenapa harus berlutut memohon belas kasihan? Bangkitlah, lakukan segala yang ingin kau lakukan. Disini tak ada keadilan, maka tegakan keadilan dalam kegelapan."

More details
WpActionLinkContent Guidelines