
{JANGAN LUPA VOTE SETELAH BACA, BEST!}
"Le, serius lo masih sendiri aja nih?"
"Cari cowok gih, Le. Pusing gue liat lo jadi kambing conge terus."
"Le, serius dong.. lo masih suka cowok kan?"
"Astaga Leonaaa, jangan ajak gue lah, cari pacar makanya.."
OMG GURL?? How important is it to have a boyfriend????
Serius. Selama delapan belas tahun gue hidup di dunia, gue rasa punya pacar gak penting-penting amat deh. Karena gue rasa.. hidup gue udah cukup sempurna. Dan kalau mau bicara cinta, gue rasa gue gak pernah ngerasa kekurangan cinta. Karena bagi gue cinta itu maknanya luas banget. Gue gak harus cari cowok ganteng plus pengertian dulu buat ngerasain apa itu cinta. Selama ada ayah dan kak Ezra di hidup gue, gue rasa.. gue baik-baik aja, tanpa pacar.
****
Katanya... nyaman itu karena terbiasa. Dan sekarang, gue rasa gue udah sangat terbiasa, dengan bahagia gue itu. Gue sangat terbiasa dengan suara berisiknya ketika dia manggil nama gue, gue sangat terbiasa dengan tingkahnya yang kadang waras dan kadang absurd itu, lalu gue sangat terbiasa dengan moodnya yang gampang memburuk saat tau kalau gue belajar terlalu larut buat persiapan ujian.
Karena siapun gak bisa kayak gitu ke gue. Gak, bukan gak bisa, tapi emang gak ada. Gue gak butuh orang lain buat ikut campur sama hidup gue, kecuali dia. Gue cuma butuh Leona, sepertinya.
****
Karena pada akhirnya, kami hanya saling bergantung dan membutuhkan. Leona untuk kak Ezra, dan kak Ezra untuk Leona. Begitu seterusnya. Dan semoga, dengan ketergantungan itu, kami tidak akan saling menyakiti dan mengecewakan, semoga.All Rights Reserved