Luka Laka

Luka Laka

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 15, 2025
*** Di bawah langit biru, ada hati yang selalu mendung. Dua hati yang sama-sama sakit walau berbeda cara terlukanya. *** Keinginan Malaka sederhana, yaitu bagaimana cara merebut pelukan papanya dari Sagara. "Kalau begitu, mari berganti pakaian dan peluklah papa selama yang kamu inginkan." "Tidak, Gara. Papa akan memukulimu." "Tidak masalah. Seperti kamu yang ingin merasakan pelukan papa, aku juga ingin merasakan pukulan papa." "Tapi sebentar saja, ya. Setelah keinginan kita terwujud, kita kembali ke nama masing-masing." *** Jika tidak keberatan, aku mohon pada semesta, jangan biarkan keadaan ini berubah. Biarkan adikku selamanya menjadi Sagara yang melupakan masa lalunya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • π™„π™§π™§π™šπ™₯π™‘π™–π™˜π™šπ™–π™—π™‘π™š - Sehun x Yoona βœ”οΈ
  • Hai, Angkasa! [COMPLETED]
  • A Twist Of Fate
  • Rintik Hujan
  • Welcome Home, Saga!
  • Langit untuk Asa
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • BETWEEN
  • Sudut Luka Nazea
  • 27 FEBRUARI

‼️F I K S I‼️ π™„π™§π™§π™šπ™₯π™‘π™–π™˜π™šπ™–π™—π™‘π™š (adj) : tak tergantikan πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ "Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit. "Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih. Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut. "Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya. "Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!" "Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?" "Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?" Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing. "Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu." Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines