Keluarga Bayangan

Keluarga Bayangan

  • WpView
    Reads 317
  • WpVote
    Votes 137
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 20, 2024
Di rumah tua yang telah lama ditinggalkan, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Suara kecil itu, seperti sebuah keajaiban yang datang tanpa diundang─tawa seorang bayi. Lembut, renyah, tetapi terasa ganjil. Tawa itu seperti melawan kehendak rumah itu, yang selama bertahun-tahun hanya menyimpan kesunyian. Tidak ada yang tahu dari mana bayi itu berasal. Ia hanya ada di sana, seolah-olah dunia memutuskan untuk menitipkannya pada tempat yang salah. Tapi benarkah salah? Atau mungkin, bayi itu datang untuk sesuatu yang lebih besar? Rumah tua itu menyimpan cerita yang mengendap seperti debu di sudut-sudutnya. Jiwa-jiwa yang pernah berdiam di sana telah lama lupa bagaimana rasanya hidup-hingga bayi itu hadir, mengguncang segalanya. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan tawa kecil yang menggema seperti denting lonceng pagi. Apa yang bisa dilakukan seorang bayi? Bukankah ia terlalu kecil untuk mengubah dunia? Tapi itulah keajaibannya. Tawa itu seperti embun pertama di ujung daun, kecil namun cukup untuk menggugah kesadaran bahwa hidup, sekeras apa pun, selalu menyimpan harapan di dalamnya.
All Rights Reserved
#76
bayangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Selaksa Kasih✔️
  • Angkasa dan Cerita
  • Warisan Gandari
  • Siluman ular itu mengubah hidupku
  • Tak punya Ayah, Tapi Aku punya Ibu yang hebat
  • Pain of the Slayer
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • [ON GOING!] Berbisik Ke Bumi
  • NOESIS [END]
  • Miracle of Survival [END]
  • bisikan
  • SMARA DIKTA

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines