UGAHARI
  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 9, 2024
Setiap detik yang dilalui adalah pertempuran yang tak pernah selesai, itulah - hidup, Tentang menerima, yang bukan sekedar membuka ruang di hati, melainkan merangkul keutuhan dirinya, meski tahu kelemahannya mungkin menyakiti, perasaan aman yang selama ini sudah kita susun rapih. Tentang diterima, yang juga bukan sekedar menemukan rengkuh, tetapi juga sebuah hangat yang tak tergantikan, hingga menjadi utuh dengan segala ketidaksempurnaan. Dan tentang dunia, yang mungkin orang lain tak akan pernah temukan, muncul sebuah pertanyaan, hidup ini masih tentang diterima dan menerima-, kan'?
All Rights Reserved
#397
ian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Erlangga
  • Arga ; Repihan Rasa TAMAT (sekuel Arga; Pusaran Sesal
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • save me
  • Rindu Dalam Diam
  • Matahari untuk Senja ( editing )
  • The Space Between Us
  • Puing luka

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines