Nice To Meet You

Nice To Meet You

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 31, 2026
Tentang Naomi, Nolan, dan suara petikan gitar yang tak jarang terdengar dari sebuah ruangan lembab dan dingin dalam kampus di Kota Bandung. Bagi mereka, ruangan itu adalah tempatnya mengekspresikan serta menenangkan diri dari badai statusnya sebagai mahasiswa. Petikan gitar menjadi penghubung keduanya dari kenalan biasa, hingga akhirnya tak canggung untuk menyantap nasi angkringan berdua. Namun terkadang, pertemuan hanyalah sebuah pertemuan. Ekspektasi yang hanya disimpan, tak menjadi kenyataan. Garis takdir yang diidamkan orang sekitar, hanya sebuah fantasi samar. Kata orang, itulah takdir. ... Atau mungkin karena mereka tak bisa menyampaikan apa yang mereka rasa.
All Rights Reserved
#352
wattpadromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Mind The Gap, 1996
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • Pretty Little Liars
  • Almost Married (END)
  • Short Story (one or two shot)
  • Anagata 97
  • SASMITA CANDALA (21+)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines