Di Surakarta

Di Surakarta

  • WpView
    LECTURES 72
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., sept. 8, 2025
~Dalam karya ini aku bercerita sebagai seorang anak perempuan, wanita dewasa, dan harapan orangtua~ "Alih-alih ikhlas dan menerima, secangkir kopi dan dialog singkat sepulang kerja ternyata telah menemukan titiknya," Perkenalkan, namaku Kinanthi Ayu Larasati, boleh kau sapa sebagai Kinan, Kawan. Kata orang, sesuatu yang tumbuh di atas diam dan rasa tidak ingin tahu memang sangat sulit untuk kita terima. Namun, bagaimana jika diam adalah cara terbaik untuk tetap begitu-begitu saja? Ku kira, diam dan bertahan sebagai 'kawan' lebih baik daripada jujur lalu pergi untuk mengikhlaskan, bukan? "Kinan, selalu hubungi ibu kapan saja kamu luang, apapun tentang kamu, ibu pasti selalu dengar,"
Tous Droits Réservés
#182
kala
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • In the Silence of Dhoho, He Heals
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Sacrifice ( Lengkap  )
  • Dear Rasa [11/END]
  • FALLING IN LOVE
  • Jangan ingin jadi aku
  • Secangkir Kopi Vanilla [Tamat]
  • CAPPUCCINO
  • [ COMPLETED] AFTER WORK

Aku selalu percaya, kota-kota kecil punya cara tersendiri untuk menyimpan rahasia. Bukan karena jalanannya sempit atau orang-orangnya terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain-tapi karena tak ada tempat untuk melarikan diri selain ke dalam diri sendiri. Di kota ini, cinta seringkali tidak disuarakan. Ia tumbuh diam-diam di bangku taman yang menghadap pertokoan tua. Ia menggantung di langit sore Jalan Dhoho, bersama aroma kopi dan suara motor yang tak pernah berhenti. Ia singgah di antara pesan-pesan yang tak pernah terkirim, dan pertemuan-pertemuan yang terlalu cepat berakhir. Aku dan dia-kami adalah bagian dari diam itu. Tak pernah benar-benar mengakui, tapi terlalu dalam untuk disebut hanya "teman". Lalu waktu mencuri semua hal yang tak sempat kami perjuangkan. Dan seperti kebanyakan cerita di kota ini, kami berakhir tanpa gaduh. Tanpa drama. Tanpa suara. Hanya sunyi yang tetap tinggal. Dan kenangan yang pelan-pelan berubah menjadi luka.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu