Jenggala: Please hug me [END]

Jenggala: Please hug me [END]

  • WpView
    Reads 2,740
  • WpVote
    Votes 250
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 10, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Author's Note ⚠️ Cerita ini murni hasil imajinasi dan karya asli penulis. Ditulis dengan waktu, tenaga, dan perasaan. ⚠️ DILARANG KERAS menyalin, menjiplak, mengklaim, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi cerita ini ke platform mana pun tanpa izin penulis. Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dan dapat ditindak sesuai aturan yang berlaku. Untuk para pembaca, mohon bijak dalam membaca. Hormati karya, penulis, dan sesama pembaca. Gunakan bahasa yang sopan di kolom komentar, tidak menyebarkan kebencian, tidak memaksakan opini, dan tidak membawa isu sensitif secara berlebihan. Jika ada kritik atau saran, silakan disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun. Terima kasih sudah membaca dan menghargai karya ini ✨ __________________ "Tolong biarkan aku hidup tenang. Sehari saja." Kalimat itu tertulis di buku harian Jenggala, tanpa tanda seru, tanpa tangis. Terlalu lelah untuk berteriak, terlalu terbiasa untuk berharap. Jenggala hidup, tapi tidak benar-benar menjalani hidup. Hari-harinya dipenuhi suara yang melukai, tangan yang tak pernah ramah, dan luka yang dipaksa sembuh sebelum sempat bernapas. Ia tak meminta bahagia-ia tahu itu kemewahan. Ia hanya ingin satu hari tanpa rasa takut, tanpa bentakan yang datang lebih dulu dari pagi, tanpa sakit yang harus ditelan diam-diam. Namun dunia seolah menolak permintaannya. Tenang adalah hal yang selalu luput, seperti cahaya yang sengaja dipadamkan setiap kali ia mencoba mendekat. Senyum pun menjadi barang asing, sesuatu yang pernah ada, tapi kini tak lagi ia kenali. "Senyuman lo terlalu mahal, kak," ucap Aruna pelan. "Saking mahalnya... gue gak pernah lihat lo senyum." Jenggala tak menjawab. Karena ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata- dan ada hidup yang terlalu menyakitkan untuk sekadar tersenyum.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Angkasa (Forget Me Not)
  • Kesedihan [SELESAI]
  • ANTARA KITA
  • Juan [REVISI]
  • Sejenak Luka
  • DeKaNa (END)
  • TERSENYUMLAH
  • Ardan [TERBIT]
  • 𝑨𝒌𝒔𝒂𝒓𝒂 𝑫𝒊 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝑷𝒂𝒔𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏

"Bunganya udah layu, Sa. Yakin mau dibeli? Nanti sampai rumah juga mati." "Gak apa-apa. Gw pastiin bunga ini gak akan mati. Layu bukan berarti mati, kan? Gw bakal rawat bunga ini... terus kasih ke Ayah." Ia tidak memilih mawar, tak pula melati. Hanya bunga kecil yang nyaris mati-seperti dirinya sendiri. Hari demi hari, ia rawat bunga itu seakan sedang menjaga harapan yang hampir padam. Rapuh, tapi belum sepenuhnya punah. Namun di Hari Ayah, harapan itu kembali layu. Bunga itu ditolak, bahkan sebelum sempat menyampaikan maksudnya. Dan malam itu... ia tak pernah pulang. Namun nyatanya, Tuhan itu adil. Setelah semua luka, setelah semua kejatuhan... Tuhan menghadirkan satu suara-yang tak menghakimi, tak pula menuntut. Hanya berkata pelan: "Sama gw, Sa. Sama gw terus. Kalo boleh berharap, semoga suatu hari nanti gw bisa jadi alasan lo buat pulang." Angkasa (last flower) "Forget me not" Warning ⚠️ Thriller × Angst × Crime !!! Cerita ini mengandung unsur thriller yang menegangkan, serta banyak adegan kekerasan, darah, kriminalitas, dan teka-teki. Harap bijak dalam memilih bacaan. ‼️⚠️

More details
WpActionLinkContent Guidelines