Jenggala: Please hug me [END]

Jenggala: Please hug me [END]

  • WpView
    MGA BUMASA 2,703
  • WpVote
    Mga Boto 248
  • WpPart
    Mga Parte 34
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Fri, Jan 10, 2025
Author's Note ⚠️ Cerita ini murni hasil imajinasi dan karya asli penulis. Ditulis dengan waktu, tenaga, dan perasaan. ⚠️ DILARANG KERAS menyalin, menjiplak, mengklaim, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi cerita ini ke platform mana pun tanpa izin penulis. Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dan dapat ditindak sesuai aturan yang berlaku. Untuk para pembaca, mohon bijak dalam membaca. Hormati karya, penulis, dan sesama pembaca. Gunakan bahasa yang sopan di kolom komentar, tidak menyebarkan kebencian, tidak memaksakan opini, dan tidak membawa isu sensitif secara berlebihan. Jika ada kritik atau saran, silakan disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun. Terima kasih sudah membaca dan menghargai karya ini ✨ __________________ "Tolong biarkan aku hidup tenang. Sehari saja." Kalimat itu tertulis di buku harian Jenggala, tanpa tanda seru, tanpa tangis. Terlalu lelah untuk berteriak, terlalu terbiasa untuk berharap. Jenggala hidup, tapi tidak benar-benar menjalani hidup. Hari-harinya dipenuhi suara yang melukai, tangan yang tak pernah ramah, dan luka yang dipaksa sembuh sebelum sempat bernapas. Ia tak meminta bahagia-ia tahu itu kemewahan. Ia hanya ingin satu hari tanpa rasa takut, tanpa bentakan yang datang lebih dulu dari pagi, tanpa sakit yang harus ditelan diam-diam. Namun dunia seolah menolak permintaannya. Tenang adalah hal yang selalu luput, seperti cahaya yang sengaja dipadamkan setiap kali ia mencoba mendekat. Senyum pun menjadi barang asing, sesuatu yang pernah ada, tapi kini tak lagi ia kenali. "Senyuman lo terlalu mahal, kak," ucap Aruna pelan. "Saking mahalnya... gue gak pernah lihat lo senyum." Jenggala tak menjawab. Karena ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata- dan ada hidup yang terlalu menyakitkan untuk sekadar tersenyum.
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Sejenak Luka
  • Peluk Aku, Tuan
  • Angkasa (Forget Me Not)
  • 𝑨𝒌𝒔𝒂𝒓𝒂 𝑫𝒊 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝑷𝒂𝒔𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏
  • Kesedihan [SELESAI]
  •  ANATHA
  • TERSENYUMLAH
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Waktu?

"Jean, Nara pinjam uang boleh? Uang jajan Nara dipotong ayah karena nilai ulangan fisika Nara turun jadi 85." "Jean, Nara boleh nebeng pulang di motor Jean, nggak? Bentar lagi ujan, Nara gak punya uang naik angkot." "Jean, boleh pinjam baju olahraga? Punya Nara disobekin sama temen-temen Nara." "Jean, kata temen Nara, Nara gak pantas jadi kakak Jean. Itu benar, ya?" "Kenapa Jean dan Arkan selalu jahat ke Nara?" *** Naraka tidak pernah mengeluh, kendati sakitnya sejak kecil tak pernah luruh. Naraka tidak iri pada saudaranya, kendati takdir begitu keji untuknya. Naraka menyayangi ayahnya, Arkan, dan Jean. Mirisnya, semuanya tidak pernah menginginkan entitas Naraka di hidup mereka. Karena Naraka cacat. Penuh cela. Naraka dibenci. Naraka disiksa. Naraka ditinggal. Naraka tidak memiliki alasan lagi untuk bertahan dengan luka. Temukan kisah perjalanan hidup Naraka bersama orang-orang tersayangnya di semesta. Membawa sejenak luka lalu pergi menghampirkan duka.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman