BINAR ANTARIKSA

BINAR ANTARIKSA

  • WpView
    Reads 504
  • WpVote
    Votes 194
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 31, 2025
Dibalik senyuman manis yang termaktub tersimpan luka yang amat pahit, dibalik tawanya yang terdengar tersembunyi lara yang mendalam. Dengan memalsukan perasaannya yang sebenarnya seorang Qiana Rahima Alishba menjalani hidupnya dengan penuh semangat, tak peduli seberapa sulitnya rintangan yang akan ia hadapi ia akan tetap tersenyum meskipun hatinya sulit untuk di ajak berkompromi. Luka yang di awali oleh peristiwa mengerikan yang merengang nyawa seseorang, kejadian petang yang telah mengawali penderitaan... "Jikalau aku tahu bahwa itu adalah pelukan terakhir dari kalian, maka aku ingin mengulang untuk memeluk kalian lebih lama" -Qiana Rahima Alishba "Tangisan langit saja bisa mereda, maka suatu kemungkinan bukan bila derita mu, akan berakhir itu nyata."-Binar Antariksa (Sinar di ruang hampa) "Tetapi barangsiapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia" (QS. Asy-Syura: 43) CERITA INI BERASAL DARI FIKIRAN SAYA SENDIRI, JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH, DAN LATAR ITU KARENA KETIDAK SENGAJAAN
All Rights Reserved
#130
indah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • ANINDYA [ TELAH TERBIT  ]
  • Sudut Luka Nazea
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Anak Angkat & Keluarga Posesif
  • I Became The Antagonist
  • Shena Aquella {SELESAI}.
  • Langkah (By Auzizahirah)
  • KEPERGIAN SENJA

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines