We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
DAMARIS
  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Kamu tau ngga kamu itu crush aku tau selama ini."Neya pun memberitahukan yang sebenarnya "Woww berarti kamu seneng dong aku tembak"ucap Aris lagi "Bukan seneng lagi tapi seneng banget"manjanya Neya dengan memeluk Aris Setelah itu suara alarm pun berbunyi yang menggangu mimpi indah sang empu "kringgggg kringggg ayo bangun ayo bangun"suara alarm "iii apaan si brisik bangett huwaaa"ucap Neya dengan kesal dan menguap "lohhh gue tadi mimpi indah tapi iiiii gue gelii sama orang itu lagi amit² jabang bayii astagfirullah." Apakah mimpi itu akan menjadi nyata? baca cerita ini sampai selesai yaaa😘
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Ghost And Love || Park Jisung and Ningning aespa
  • Crazy Student and Bad Teacher
  • Sergio | Haechan
  • I AM YOURS    [ TAMAT ]
  • Tragedi Cinta! - BTS [Short]
  • Felicity [On Going]
  • Don't hate me || Jeno Jaemin [END]
  • U'RE MINE [END]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines