Story cover for DAMARIS by naaaaaeeelll__
DAMARIS
  • WpView
    LETTURE 42
  • WpVote
    Voti 15
  • WpPart
    Parti 5
  • WpView
    LETTURE 42
  • WpVote
    Voti 15
  • WpPart
    Parti 5
In corso, pubblicata il nov 13, 2024
"Kamu tau ngga kamu itu crush aku tau selama ini."Neya pun memberitahukan yang sebenarnya

"Woww berarti kamu seneng dong aku tembak"ucap Aris lagi

"Bukan seneng lagi tapi seneng banget"manjanya Neya dengan memeluk Aris

Setelah itu suara alarm pun berbunyi yang menggangu mimpi indah sang empu

"kringgggg kringggg ayo bangun ayo bangun"suara alarm

"iii apaan si brisik bangett huwaaa"ucap Neya dengan kesal dan menguap

"lohhh gue tadi mimpi indah tapi iiiii gue gelii sama orang itu lagi amit² jabang bayii astagfirullah." 
 
Apakah mimpi itu akan menjadi nyata?
baca cerita ini sampai selesai yaaa😘
Tutti i diritti riservati
Iscriviti per aggiungere DAMARIS alla tua Biblioteca e ricevere tutti gli aggiornamenti
oppure
#602chan
Linee guida sui contenuti
Potrebbe anche piacerti
Felicity [On Going] di ayudiantta
12 parti Completa
BRAKK... "Aww..". Ringisnya. Naya yang belum sepenuhnya sadar berada di atas tubuh orang itu, hanya bisa meringis menahan sakit di dahinya karena terbentur dengan hidung orang yang di tindihnya itu. "Aduh, sakit banget dahi gue, lecet nih kayaknya". Adunya sembari mengusap keningnya yang memerah. "Tapi, kok gue jatuhnya nggak sakit ya". Setelah merasa jika dirinya menabrak seseorang tadi, refleks Naya membuka matanya dan pandangannya langsung bertubrukan dengan mata orang di bawanya, yang 'sialnya malah menatapnya nya dengan tatapan intens dan bibir yang menyunggingkan senyum tipis. Buru buru Naya bangkit dari atas tubuhnya, dan membatu sosok itu berdiri dari jatuhnya. "So-sorry El, g-gue nggak sengaja". Naya meruntuki dirinya yang ceroboh sampai sampai menabrak orang begini. _____________________ "Hm, liat gue". Ujar El dengan tatapan masih tertuju pada Naya. "Ha?". Naya mendongak menatap El, wajah tampannya seakan menghipnotis Naya saat ini. "Lo, cewek waktu itu kan?". Tunjuknya ke arah Naya dengan senyum yang masih tercetak di wajahnya. "I-iya". Ah mengapa Naya merasa dirinya gugup sekarang. El maju mendekatinya yang mengakibatkan Naya refleks memundurkan langkahnya. Mata El seakan menghipnotis Naya, sehingga Naya tidak dapat mengalihkan tatapannya dari mata tajam milik El. "Lo, ng-ngapain". Panik Naya saat tubuhnya terbentur dinding, dan tangan kekar El mengunci tubuhnya. "What it's your name', girl"?. Tanyanya dengan suara serak , yang sialnya' malah membuat jantung Naya kejang kejang. ______________________ _Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian. Itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan_ 💯 karangan sendiri!! _____________________ all picture inside © Pinterest
Potrebbe anche piacerti
Slide 1 of 8
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Tragedi Cinta! - BTS [Short] cover
U'RE MINE [END] cover
Don't hate me || Jeno Jaemin [END] cover
Felicity [On Going] cover
Dear Rayna (Revisi) cover
I AM YOURS    [ TAMAT ] cover
Je t'aime |Noren |Nomin| cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 parti Completa

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."