Bastian, seorang mahasiswa kesehatan berusia 22 tahun yang selalu terlihat cuek dan terasingkan, hidup dalam dunia yang ia bangun sendiri - dunia yang penuh tembok dan jarak. Sejak kecil, ia belajar untuk tidak bergantung pada siapapun, untuk selalu bertahan sendirian. Dengan masa lalu yang penuh luka dan pengkhianatan, Bastian memilih untuk menutup dirinya.
Nassa, seorang gadis ceria dan penuh semangat yang selalu melihat dunia dengan cara berbeda. Nassa tidak hanya ceria, tapi juga memiliki tekad dan percaya diri yang luar biasa. Dia adalah kebalikan dari Bastian, dan tanpa ia sadari, Nassa mulai memecah tembok-tembok yang dibangunnya selama ini.
Meskipun awal Bastian merasa terganggu dan acuh tak acuh, semakin lama ia merasa nyaman dengan Nassa. Ia melihat bagaimana Nassa menerima dirinya tanpa syarat, bahkan dengan semua ketidaknyamanan dan keraguan yang ada pada dirinya. Nassa mengajarkan Bastian bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti menutup hati terhadap orang lain. Bastian juga menyadari sesuatu yang luar biasa. Dia sudah mulai mencintai dirinya sendiri, tapi bersama Nassa, ia menemukan cara untuk mencintai "kami" - mereka berdua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya
Kehidupan kampus yang penuh dengan lika-liku ini menceritakan perjalanan Nayla dan Kevan dalam mencari jati diri masing-masing. Awalnya, hubungan mereka dipenuhi oleh rasa benci dan ketidaksukaan. Setiap kali bertemu, tidak ada sapaan yang terucap, bahkan sebuah senyuman pun terasa mustahil. Mereka tidak hanya mengabaikan satu sama lain, tetapi juga seolah-olah tidak mengakui keberadaan masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu dan berbagai peristiwa yang mereka alami bersama, perlahan-lahan jarak di antara mereka mulai mencair, dan hubungan mereka berkembang menjadi lebih dekat dan penuh pengertian.