DUKA LARA

DUKA LARA

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Culture and Identity
Southeast Asian
Indigenous
Setelah puluhan malam diisi dengan tangisan, Lana akhirnya berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia berjalan menuju cermin di kamarnya, "Aku benci. Aku benci kenapa aku sebodoh itu. Kenapa aku masih mengharapkan kamu?" ujarnya lirih. Dengan keadaan mata yang sembab, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Merutuki dirinya sendiri karena merasa terlalu bodoh. Ia masih berharap segala hal menyakitkan dalam hidupnya hanyalah mimpi. Andai ia bisa menghilang dari dunia ini, pasti ia bisa menghilangkan rasa sakit hatinya. Saat kehidupannya jatuh, seseorang pernah membisikkan kalimat yang selalu menjadi penguat hidupnya. "Meski menyakitkan, hidup harus tetap berjalan Lana" •••
All Rights Reserved
#273
cerai
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 360 and Still Me
  • Argetha (On Going)
  • Derena
  • Arkan Dan Keira
  • Aruna (Terjerat Cinta Dan Benci)
  • Sebelum Luka
  • Accidental' (END)
  • Bitter Sweet
  • WISHES.

Violetta Lanora Adinata pergi tanpa pamit-meninggalkan cinta pertamanya, sahabat-sahabat yang pernah jadi rumah, dan serpihan kenangan dari masa putih abu-abu yang tak selalu manis. Tak ada kata maaf, tak ada salam perpisahan-hanya kepergian yang sunyi, dibungkus diam yang panjang. Namun waktu, dengan caranya sendiri, menyeretnya kembali ke tanah tempat segalanya bermula. Dan di sana, semesta seolah tak memberinya pilihan lain selain menghadapi apa yang selama ini ia hindari-luka lama, tanya yang tak pernah terjawab, dan cinta yang mungkin belum benar-benar usai. Alvaro Nata Prabawa-tinggi, berwibawa, dengan wajah yang nyaris mustahil diciptakan tanpa sentuhan seni ilahi. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan sepasang mata tajam yang dapat membuat siapa pun yang ia tatap menjadi membeku dan terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin, nyaris menusuk. Tapi yang membuatnya terhenti sejenak adalah kenyataan bahwa gadis itu, gadis bermata hazel yang dulu selalu menatapnya dengan mata penuh kelembutan, kini membalas dengan sorot mata yang sama tajamnya. Sama menusuknya. Seolah waktu telah mengajarkan mereka bagaimana menjadi asing, mereka kini berdiri sebagai dua kutub yang tak saling mendekat, asing dalam bayang-bayang kenangan yang belum selesai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines