SADANA

SADANA

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
tanyakan saja kepada Papa; siapa alasannya bertahan hidup hingga detik ini tiba? Maka, jawabannya adalah Sadana. Atau, bagi Megatra, eksistensi si bungsu itu serupa oksigen yang memenuhi paru-paru; bila Sadana tak ada, maka dia pun kehilangan nyawa. Lain hal bagi Maharja, bahwa Sadana seumpama rumah ternyaman yang selalu bersedia menawarkan dua telinga, setiap kali ia dipatahkan oleh dunia Ikhtisar Tanyakan saja kepada Papa; siapa alasannya bertahan hidup hingga detik ini tiba? Maka, ialah manusia baik hati yang memburai sulaman luka di kepala Nuga yang kusut masai tanpa suara. Orang yang telah memberikan pundak untuk bersandar kepada Zegan, kala abangnya dikalahkan oleh realita yang ada.Juga, orang yang telah menyedekahkan kata-kata penyemangat agar Banyu tetap menggenggam cita-citanya dengan erat semampu yang ia bisa. Serta, menjadi obat penyembuh yang membuat sakit di dada Garaga lenyap tak bersisa.
Public Domain
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Luka Yang Tak kunjung Membaik
  • Ternyata aku anak kandung [Terbit]
  •  HAZELA
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Gerhana Matahari | Sudah Revisi
  • Waktu?
  • ANOTHER JOURNEY | Spin-off IN THE END ✔

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines