Langit Rinai

Langit Rinai

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 21, 2024
Rinai melangkah dalam sunyi, menuju gedung tua tempat dunia seakan berhenti. Angin malam menggigit kulitnya, tapi ia tak peduli. Di tepi itu, matanya terpejam, seolah ingin melepaskan beban yang tak lagi mampu ia pikul. Apa yang membuat hati seseorang terasa hampa meski dunia terus berputar? Apa yang begitu menyakitkan hingga langkah menuju akhir terasa lebih ringan daripada bertahan? Dan, adakah harapan tersisa bagi jiwa yang terperangkap dalam gelap?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Riana
  • untuk dhea, dilembar terakhir
  • Mahligai Sunyi
  • THE FORBIDDEN ROSE
  • Angel To Raya (END)
  • Traces in the Light
  • Dalam Genggaman Raka

Aku pernah melangkah penuh percaya diri di kampus negeri, di mana mimpi-mimpi sederhana terasa seolah sudah ada di ujung tangan. Aku aktif, dikenal, dan percaya bahwa masa depan yang cerah hanyalah soal waktu. Tapi ketika ibu pergi, semuanya runtuh tanpa ampun. Sunyi menyelimuti rumah yang dulu penuh tawa, tabungan menguap seperti angin, dan Jati diri terhempas jauh melayang lalu sirna bersama rasa kecewa, Ayah terdiam dalam kebingungan, kehilangan arah yang dulu ia genggam erat. Aku yang muda, yang seharusnya berlari mengejar mimpi, terjerat oleh tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul sendiri. Aku berhenti kuliah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena harus memilih, melanjutkan mimpi yang kian menjauh, atau bertahan untuk keluarga yang runtuh. Hari-hariku berlalu begitu saja, menampung lelah yang tak selalu terlihat, dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus menghantui kenapa dunia ini tak selalu berpihak pada mereka yang berjuang paling keras? Aku merangkai kekuatan dari serpihan kehilangan, menenun harapan dari kegelapan yang pekat. Aku berdiri, walau rapuh, karena menyerah bukanlah bagian dari ceritaku. Perjalanan ini belum selesai, dan aku tahu, langkahku harus terus berlanjut, meski dunia kadang membelakangi dan meninggalkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines