Tiga Ruang Sudut

Tiga Ruang Sudut

  • WpView
    Reads 963
  • WpVote
    Votes 111
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 29, 2024
"Na, setelah Abang berbuat semua ini, apakah Abang masih bisa dimaafkan?" "Tentu, Abang. Mau Abang buat Naka terjatuh dari jurang hingga Naka koma, atau ketika Naka kembali kehilangan kesempurnaan karena Abang sekalipun, Naka akan tetap memaafkan Abang." "Kenapa? Bukankah semua itu dalah tindakan tidak terpuji yang tak patut dapat belas kasihan?" "Karena Naka tahu kalau semua yang Abang lakukan bukan atas kehendak Abang sendiri. Naka memaklumi, Abang." Sudah sangat lama sekali dialog itu menyembur keluar dari mulut masing-masing kakak beradik di suatu sore. Namun, luka yang ditorehkan ternyata masih sama sakitnya. Ucapan penuh keikhlasan dan pertanyaan penuh pedih itu masih senantiasa dapat di dengar melalui bayang-bayang ketakutan kala Nakala berada dalam tiga sudut ruang di rumah bernaung mereka. Ruang tamu, teras halaman rumah, dan tempat tidur. Tiga tempat itu mengisi berbagai macam kenangan pilu ataupun menyenangkan yang mungkin tak bisa mereka kembali lakukan. Karena suatu hal yang membuat keduanya membangun dinding tembok besar tak kasat mata yang dapat memutus benang persaudaraan kapan saja. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, mereka ingin kembali memulai lembar baru sebagai kakak beradik yang biasanya ada. Saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain. Walaupun di dunia berikutnya sekalipun, mereka hanya berharap semoga bisa terkabul.
All Rights Reserved
#4
nakala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Perfect [Na Jaemin] [✔️]
  • Se(lara)s✔️
  • Ananda✔️
  • Luka Naren. ( SUDAH TERBIT )
  • Renjana [COMPLETED]
  • All For Jievin [END]
  • Bukan Cerita Kita
  • Sandyakala | Haechan

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines