"Dear Ayahku"

"Dear Ayahku"

  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadComplete Thu, Aug 27, 2026
WpInfo
Non-Fiction
"Dear Ayahku" Untuk ayahku, Lihat lah anakmu ini sedang berjuang untuk hidup dan bersedia selalu untuk membahagiakan engkau di sana dan ibu. Ibu lah sekarang tepat untuk ku berbakti, aku akan membahagiakan Ibu , ayah... Ayah aku harap engkau bahagia yah di atas sana, aku do'akan engkau selalu ayah . . . . . Sahara, Hidup Itu Perihal Menyambut Dan Kehilangan. Kamu Tahu Lagu Sampai Jumpa-Nya Endank Soekamti, Kan? Ya Kira-Kira Begitulah. Tapi Kamu Tahu Alasan Kenapa Manusia Punya Perasaan ?Sebab Itu Adalah Satu-satunya Cara Kamu Mengingat abis-Habism Dengan Kesan Yang Tak Habis-Habisnya. Jadi Jangan Terlalu Larut Dalam Kesedihan Jika Menemukan Kehilangan-Kehilangan Lainnya. Sedihlah Seperlunya. Lalu Bangkitlan Kembali Dan Kamu Tidak Benar-Benar Kehilangan. Segala Sesuatu Itu Akan Abadi Dalam Kenang Yang Kamu Bawa Dalam Perasaanmu Sampai Kapanpun Itu. "Ayah asal ayah tau aku belum siap untuk ditinggal untuk selama-lamanya... Jika saja aku diberi pilihan aku Mau sekali bersama dengan ayah terus hingga aku sukses. Tapi apalah dayaku karna itulah takdir yah... Antara hidup dan mati tidak ada yang tau, entah itu tua ataupun muda ,Ayo ayah kita bertemu kembali di kehidupan selanjutnya aku akan menjadi anak mu kembali :)" -Della Nadika Fadhilah
All Rights Reserved
#791
keren
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • SARAH STORY
  • My Quuen is Bad Gril
  • Abadinya Kisah Jerrom & Affa
  • After My Prayed
  • Your Beautiful Eyes (END)
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)
  • dimana janji tersebut
  • Maaf' (Revisi)
  • UNREQUITED LOVE

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines