Diffused

Diffused

  • WpView
    Reads 700
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadComplete Tue, Dec 8, 2015
Terserah Padamu. Ini Duniaku. Aku, seorang remaja keturunan gen campuran Perancis dan Indonesia. Berharap memiliki kehidupan yang normal. Jika boleh meminta lebih, aku ingin hidupku tenang. Tapi semua orang tahu, kehidupan tidaklah pernah datar. Ya, jika kau merasa hidupmu baik-baik saja, kau gila. Sungguh gila. Dengar, itu namanya bukan kehidupan, tapi kematian. Ah, biarlah aku berbagi kisah ini denganmu. Aku tak berharap kau akan menyukainya. Tapi, ya sudahlah. Kuharap kau seseorang yang baik hati. Tidak,aku terlalu naif. Tapi, semoga hidupmu akan selalu baik-baik saja~
All Rights Reserved
#143
human
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • 𝐈𝐧𝐬𝐢𝐝𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭
  • Dark
  • the magical forest {CH}
  • Stop!! Mempermalukan ku
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Human Living (Slow update)
  • KISAH TANPA ENDING ✓
  • TUBUH GADIS NERD [END]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines