DESTINY

DESTINY

  • WpView
    Reads 135
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Dec 31, 2024
"Untuk terakhir kalinya, izinkan aku tertawa bersama mereka. Menikmati momen ini, meski aku tahu... ini akan menjadi yang terakhir." - Liam Bagastara ... "Bagaimana ini bisa terjadi? kita sudah berusaha sekuat mungkin menjaganya, tetapi kenapa kita masih kecolongan? pada akhirnya, semuanya sia-sia. Semua perjuangan kita tidak membuahkan hasil. Dia tetap pergi dan tidak akan kembali lagi." Kinan Angkara Dewantara "Tidak ada yang sia-sia. Dia pergi karena keinginannya sendiri. Jangan terlalu larut menyalahkan diri sendiri karna semua ini sudah sesuai takdir Tuhan." Wira Jeandra Wista "Benar, takdir Tuhan itu tidak bisa kita tebak. Seperti awal pertemuan kita yang tidak disengaja, semuanya terjadi begitu saja hingga kita saling mengenal satu sama lain. Seiring waktu berjalan, kita lama-kelamaan saling bergantung satu sama lain. Namun, pada akhirnya, kita tetap belum bisa memahaminya. Karena itu, kita kehilangan sosoknya." Lengkara Juan Baskara ⚠️ Cerita ini sepenuhnya merupakan hasil dari imajinasi saya sendiri. Semua tokoh, tempat, dan kejadian di dalam cerita adalah fiktif dan tidak ada kaitannya dengan kejadian atau individu nyata. Jika ada kemiripan, itu hanyalah kebetulan semata.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Commitment At That
  • Little Hoshi
  • KEPERGIAN SENJA
  • KAIREL [END]
  • Our Emergency Calls
  • The Rain [SoonHoon]
  • The Gift || SEVENTEEN [COMPLETE]
  • Give Me Your HUG(END)✅

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines