Story cover for The Ocean by rosacalistriasani
The Ocean
  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Nov 20, 2024
"kenapa kamu suka banget sama laut?"

Sella tersenyum pada Haikal, lagi lagi Haikal kembali terpesona dengan senyuman itu. Bahkan setelah Sella sudah kembali menatapi lautan luas didepan sana dan tidak menjawab pertanyaannya. Kalau boleh jujur Haikal merasa cemburu dengan lautan karena dicintai begitu dalam oleh Sella. 

"Karena laut itu cantik." 

"kayak kamu."

Sella tertawa pelan,"terimakasih."


cr by pinterest
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add The Ocean to your library and receive updates
or
#825siblings
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Pesan untuk abang | Lee Haechan  cover
Three Idiot Girls  ✔ cover
beach and you cover
Nara dan Haikal cover
Double Kill [✔] cover
BROTHER FROM HEAVEN cover
U are cover
Sincere (Nara) cover
Affair [✔] cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 parts Complete

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."