Rimba Bagaskala

Rimba Bagaskala

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 6, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Nisha Deepika sudah tahu jawabannya sejak lama-Rimba Bagaskala tidak pernah melihatnya dengan cara yang sama. Namun meski telah ditolak, Nisha tetap memilih bertahan, mengejar pria yang sejak kecil selalu menjadi pusat dunianya. Rimba terlalu sempurna, terlalu jauh, seperti fatamorgana yang tampak nyata namun tak pernah bisa disentuh. Semakin Nisha berlari, semakin ia sadar bahwa cinta tidak selalu tentang sampai, melainkan tentang seberapa lama seseorang mampu bertahan tanpa pernah benar-benar digapai. Sampai kapan Nisha akan mengejar, dan apakah Rimba akan pernah berhenti untuk menoleh?
All Rights Reserved
#125
jeonsomi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • ALEYA~~
  • Raina Maramitha
  • CINTA MATI
  • Unspoken Love [18+]
  • Angkasa (Forget Me Not)
  • Isi Kepala
  • Permainan Takdir [TAMAT]
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines