STRICT PARENTS

STRICT PARENTS

  • WpView
    Membaca 4
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Nov 27, 2024
WpInfo
Fiksi
Romansa
Aku tak tau harus bagaimana lagi. Setiap hari, aku memikirkan, kapan aku akan bebas? Sampai kapan aku dikekang seperti ini? "Aku ga bakalan kemana-mana. Aku cuma mau setoran hafalan kimia doang, itu syarat untuk ikut ujian kimia," bujukku tapi tetap saja mendapat penolakan. Sambil menatap handphonenya, ayahku tidak mengizinkan dengan tegas, "Hari libur ya hari libur! Ga usah kemana-mana. Ayah tau kegiatannya anak muda sekarang." Huh ... padahal itu mereka. Aku dan mereka ya jelas tidak sama. Aku juga tau batasanku. Rasanya ingin sekali meneriakkan kalimat itu di depannya tapi rasa takut selalu saja menahanku. Tidak lucu kan? Kalau saja hp yang ia pegang tiba-tiba melayang di kepalaku atau sabuk pinggang yang ia kenakan ia buka dan dicambukkan padaku. Bisakah aku mendapatkan kebebasan sekali saja? Aku ingin sekali merasakan bagaimana sensasi canda tawa bersama teman di cafe. Bagaimana rasanya berteriak dan bersembunyi di balik teman ketika ada hantu di rumah hantu pada malam hari. Duduk di pinggir pantai, menatap matahari terbenam dan ombak yang terus berderai. Memang, itu adalah hal yang membosankan bagi beberapa orang. Tapi, aku tak pernah. Aku ingin kebebasan. Dalam hal berpakaian saja diatur. Pertemanan, diatur. Keluar dari rumah harus dengan alasan yang jelas. Menyebalkan sekali.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#284
stopbullying
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Dua cangkir satu Meja
  • Behind The Smile (TERBIT)
  • ALGARA & ALTARA [End]✓
  • Strong Girl Michella (END)
  • My Nine Sisters
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • R I N D U

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan