Kepada Bulan

Kepada Bulan

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 30, 2026
"Dalam setiap purnama, ada cerita. Dalam setiap bulan, ada kenangan." Kepada Bulan merupaka kumpulan puisi yang akan membawa pembaca untuk menjelajahi perjalanan waktu selama satu tahun. Mulai dari Januari yang penuh harapan hingga Desember yang penuh perpisahan, setiap puisi menyuarakan kisah kehidupan penyair yang dipengaruhi oleh musim, waktu, dan emosi. Setiap bulan yang terjadi di dalam buku ini, bukan hanya sekadar nama, tetapi merupakan sebuah babak cerita. Kejadian-kejadian sederhana seperti hujan yang jatuh di Februari, malam-malam sepi di Juni, atau daun-daun yang berguguran di Oktober menjadi inspirasi penyair untuk berbicara kepada bulan. Dalam tiap baitnya, anda akan menemukan refleksi tentang cinta, kehilangan, kebahagiaan, dan harapan, yang berpadu indah dengan suasana. Buku ini adalah perjalanan penuh emosi yang membingkai satu tahun kehidupan manusia melalui lensa puisi. Ikuti cerita Kepada Bulan, dan temukan dirimu dalam kisah di balik setiap bulan. Puisi-puisi baru akan diterbitkan setiap minggu.
All Rights Reserved
#609
kumpulanpuisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Puja Puji Palsu
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Senja
  • Bait-Bait Semesta
  • Cinta Berbalut Puisi
  • ANGKASA

[HIATUS] Indira tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan tubuh yang lemah. Tapi hari-harinya kini dipenuhi detak mesin, jarum-jarum tajam, dan dinding rumah sakit yang dingin. Tubuhnya tidak pernah benar-benar sembuh, tapi pikirannya terus mencoba kuat. Karena di sisi lain, ada Ella. Seseorang yang selalu ada di sana, dengan sabar, lembut, dan tak pernah menyerah. Ella yang datang dengan susu kotak saat dunia rasanya hambar, yang menemani sesi cuci darah meski hanya bisa duduk diam sambil menggenggam ujung jaket Indira. Namun semakin hari, semakin terasa: ada batas yang tak bisa lagi mereka pura-pura tak lihat. Indira mulai menjauh, bukan karena tidak cinta, tapi karena takut cinta itu perlahan berubah jadi beban. Ia merasa tak lagi layak untuk dicintai, apalagi saat tubuhnya sendiri terkadang tak sanggup berdiri lebih lama dari lima belas menit. Sementara Ella terus bertanya; mengapa kak Indira menarik diri? Apa salah jika ia ingin tetap di samping seseorang yang ia pilih untuk ia perjuangkan? Di antara rasa sayang dan amarah yang terpendam, keduanya mulai kehilangan arah. Mereka tak pernah bertengkar, tapi diam-diam saling menyimpan luka. Sampai pada akhirnya, sebuah sore yang sunyi di stasiun kecil menjadi saksi bahwa: keduanya duduk berdampingan, tanpa banyak kata. Hanya ada satu kalimat dari Ella, pelan namun penuh makna, "Ayo menepi dulu, sebentar saja." Bukan untuk pergi, bukan untuk berakhir. Tapi untuk istirahat dari semua hal yang memaksa mereka menjadi kuat setiap waktu. Namun yang tidak mereka tahu adalah... kadang, yang kita anggap hanya sebentar bisa jadi jeda terakhir sebelum semuanya berubah. "Aku ngerasa kayak mayat hidup, El..." "Ada aku, Ada Ella... Semuanya akan baik-baik aja, kak. Trust me..." Start ; Fri, May 16, 2025 End ; - By. awmawindh |; Seraphine.daine

More details
WpActionLinkContent Guidelines