Luka Anak Pertama ( Revisi )
Sejak kecil, Aira belajar bahwa menjadi anak pertama berarti harus mengerti lebih banyak dan meminta lebih sedikit.
Ia harus menjadi contoh yang baik.
Harus mengalah.
Harus menjaga adik.
Harus memahami keadaan orang tua.
Dan yang paling penting, tidak boleh terlihat lemah.
Setidaknya, begitulah yang selama ini ia pikirkan.
Kini Aira telah dewasa. Ia memiliki pekerjaan, penghasilan sendiri, dan kehidupan yang dari luar tampak baik-baik saja. Namun, ada satu hal yang tidak pernah ikut tumbuh bersamanya: keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya juga lelah.
Setiap kali keluarga membutuhkan sesuatu, Aira berusaha menjadi orang pertama yang membantu. Ketika adiknya memiliki masalah, ia menjadi tempat bercerita. Ketika orang tuanya membutuhkan dukungan, ia berusaha ada.
Tetapi ketika Aira sendiri membutuhkan tempat untuk pulang, ia tidak tahu harus mengetuk pintu siapa.
Malam itu, setelah seharian tersenyum di hadapan banyak orang, Aira duduk sendirian di kamar.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya bertanya:
"Kalau aku berhenti menjadi kuat sebentar, apakah aku masih akan disayangi?"
Pertanyaan sederhana itu membuat dadanya terasa sesak.
Mungkin selama ini Aira bukan tidak bahagia.
Ia hanya terlalu lama lupa bagaimana caranya mendengarkan dirinya sendiri.
Dan mungkin, sudah waktunya ia berhenti meminta maaf karena memiliki perasaan.
Sebab menjadi anak pertama tidak seharusnya berarti harus mengorbankan seluruh dirinya.