Friend With Benefit

Friend With Benefit

  • WpView
    Reads 455
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 27, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Gue butuh bantuan lo ... lagi!" ujar Kirei. "Lo gak bisa selamanya minta bantuan gue buat kerjain tugas, lo harus ngandelin diri sendiri," balas Ale. "Ah!" Kirei mengibas telapak tangan. "Lo mau berapa? Gue kasih sekarang juga." "Gue gak butuh. Uang gue udah banyak!" balas Ale. "Kalo gitu, bilang lo mau apa? Gue kasih asalkan lo mau bantu lagi!" "Gimana kalo tubuh lo? Sanggup?" "Sang...gup." *** Karena memiliki 2 kembaran yang memiliki otak cerdas, Kirei merasa minder dengan kemampuan belajarnya. Dia memutuskan untuk selalu meminta Ale, teman satu kampus- menggantikannya mengerjakan tugas dengan imbalan uang, hingga akhirnya Kirei mendapatkan nilai bagus. Namun lama-kelamaan, Ale merasa kasihan kepada Kirei yang tak akan bisa mengandalkan dirinya sendiri karena terus bergantung padanya. Dia pun memiliki ide menolak permintaan Kirei dengan meminta imbalan tak masuk akal agar Kirei menyerah. Di luar dugaan, Kirei yang kepalang membuat keluarga merasa senang pun malah menyetujui permintaannya. Lalu, bisakah Ale menahan gejolak pada dirinya?
All Rights Reserved
#192
fwb
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sweetie Pie Corner
  • The Beauty Inside(Complete)
  • ALVANSA [Completed]
  • Boom Boom Heart
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • KAMU ITU CINTA (Tersedia Versi Cetak)
  • sifat berbeda? [zeedel]
  • SYAKIRA how are you?

Bagi Nala Arutala, hidupnya sudah cukup manis dengan keberadaan Pinkie Pie Bakery, usaha kecil-kecilan yang ia jalankan dengan penuh cinta. Ia tidak butuh kejutan, tidak butuh drama, dan jelas tidak butuh seseorang yang suka bikin hidupnya lebih ribet. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain aroma pie yang baru keluar dari oven dan senyum pelanggan yang puas. Tapi segalanya berubah absurd ketika mempertemukannya dengan Elio Leonardo. Cowok dengan tingkah konyol yang tiba-tiba muncul dihidupnya. "Jangan makan di sini kalau cuma mau nyebelin," kata Nala tanpa mengangkat kepala. Elio terkekeh, dengan santainya menggigit pie stroberi ditangannya. "Gimana kalau gue cuma pengen lihat muka bete lo?" Nala menatapnya tajam. "Gimana kalau gue larang lo datang ke sini lagi?" Elio menyeringai, seolah itu adalah tantangan yang menarik. "Nggak bisa. Gue pelanggan setia." Dan di situlah masalahnya. Lama-lama, kue-kue Nala mulai terasa lebih dari sekadar makanan. Setiap gigitan punya cerita, dan setiap pertemuan semakin mengaburkan batas antara iseng dan ketertarikan. Di tengah tugas sekolah, deadline ujian, konflik yang berhamburan dan masa depan yang semakin dekat, satu pertanyaan muncul: Apakah hati yang mulai terbiasa bisa tetap hangat meski waktu terus berjalan? Hi, My Sweetest Pie! •• cover mentahan from @lystudiodesaign

More details
WpActionLinkContent Guidelines