
Mungkin hidupnya tidak hancur. Mungkin Liya tidak pernah menbenci semesta. Mungkin Liya tidak membenci dunia karena harus tetap tinggal. Tapi mungkin semua yang menyakiti Kak Dewa, juga akan menyakitinya.
Katanya, bangunan itu tidak akan berubah. Katanya, rumah itu surga, surga yang tidak akan pernah kita benci meski sesakit apapun dinding-dinding temboknya hancur. Surga yang tidak akan pernah kita jauhi walau kaca-kacanya pecah menggores paruh hati.
Namun Liya tau kapan harus menyerah. Liya tau kalau-kalau Kak Dewa mungkin akan pergi ke surga yang lain karena Liya tidak bisa jadi apa yang Kak Dewa inginkan, Liya harus membencinya.
Liya harus membenci rumahnya.
Selamanya.All Rights Reserved1 parte