Bayangan di Malam Kelam(xodiac)

Bayangan di Malam Kelam(xodiac)

  • WpView
    Reads 1,990
  • WpVote
    Votes 249
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 22, 2025
WpInfo
Fiction
Horror
Suara burung hantu terdengar di kejauhan, diselingi angin yang meniup daun-daun kering di hutan. Di tengah gelapnya malam, sembilan pemuda berdiri di depan bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan. Rumah itu terkenal angker, banyak cerita yang beredar tentang penghuni tak terlihat yang tinggal di sana. "Apa kita beneran masuk ke sini?" tanya Zayyan, suara polosnya terdengar kecil. Matanya melirik ke arah Sing, kakaknya yang berdiri paling dekat dengannya. "Kita harus. Kalau nggak, kita nggak bakal tahu apa yang sebenernya terjadi sama orang-orang yang hilang," jawab Sing tegas. Matanya menatap Zayyan sejenak, memastikan adiknya nggak terlalu takut. "Kalian mau main uji nyali? Serius?" Davin menyela, nada suaranya penuh ejekan. "Kita harusnya balik aja ke rumah. Gue nggak mau ikut-ikutan kalau ada yang kesurupan." "Diam, Davin," Lex menegur sambil melipat tangan di dada. "Kita udah di sini. Lagian, ini bukan soal main-main. Ada sesuatu di sini yang harus kita cari tahu." "Udah, jangan ribut," potong Hyunsik dengan nada tenang. "Ayo masuk. Semakin lama kita di luar, semakin nggak enak rasanya." Dengan langkah ragu, mereka pun masuk ke dalam rumah tua itu, tak tahu bahwa malam itu akan mengubah segalanya.
All Rights Reserved
#33
wain
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Anak yang tak pernah diinginkan [Xodiac]
  • The Weight of Vengeance  [REVISI]
  • •For Our Youngest Brother• { Xodiac }

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines