Mount Shasta

Mount Shasta

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing<5 mins
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 15, 2025
Alex, pria berusia dua puluh enam tahun, mewarisi keahlian mendaki gunung dari pamannya. Ia sudah mendaki banyak gunung sejak berusia dua puluh satu tahun. Alex pernah tidak sengaja menemukan buku harian pamannya. Pamannya selalu menuliskan pengalamannya selama mendaki di dalam buku itu. Di halaman terakhir, ia menemukan tulisan pamannya yang menceritakan bahwa sang paman tanpa sengaja menemukan sebuah tempat misterius. "Agarta? Aku tidak percaya akan tempat-tempat konyol seperti itu," ucap Alex dengan acuh tak acuh. Tiba-tiba, ia merasa ingin mendaki gunung terakhir pamannya, gunung Shasta. Ia menolak untuk mendaki bersama teman-temannya. Bukan, karena penasaran dengan tempat bernama Agarta, namun karena ia ingin bermalam sendirian di gunung itu, agar ia bisa melepaskan rasa rindu terhadap sang paman. Akan tetapi, bukan hanya pengalaman mendaki yang ia dapatkan. Justru, pengalaman di tempat yang selama ini ia tidak percaya akan keberadaannya.
All Rights Reserved
#419
anotherworld
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jangan Berpaling Dariku
  • BUKIT LALANG
  • Istri Kedua
  • 𝐒𝐞𝐭𝐞𝐠𝐮𝐡 𝐊𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐊𝐢𝐭𝐚
  • Ranjang sahabatku
  • JAM PASIR
  • Cinta Tak Harus Memiliki

Berkahwin dengan lelaki yang dia cinta merupakan impian dalam hidup Aina. Bahagia... itu yang dia mahu bersama Benjamin. " Sampah apa yang kau bagi pada aku ni?" kasar suara Benjamin menyoal. Aina mengambil dokumen yang dilemparkan Benjamin di atas meja lalu dia membelek sekali lagi. Rasanya tiada kesilapan yang dia lakukan kerana dia telah menyemak berkali-kali sebelum menghantarnya kepada Benjamin. " Erk... ini kan dokumen yang Encik Benjamin suruh saya buat." Aina membalas perlahan. Dan dia rasa ingin menampar mulut sendiri kerana menjawab. " Ini bukan dokumen yang aku suruh kau buat tapi ini sampah! Benda macam ni patut masuk dalam tong sampah, bukan kat atas meja aku!" Benjamin membentak kuat. Namun hidupnya seakan tercampak ke dalam lembah kedukaan bila Benjamin sering menolaknya jauh dari sisi. Bertahan atau mengalah... apa yang harus dia lakukan? Dibenci suami sendiri, sanggupkah Aina bertahan di sisi Benjamin?

More details
WpActionLinkContent Guidelines