Di tengah deretan wajah yang selalu terkesan terbuka, ada 'Jeano Anandakaraksa'. Pemuda tunawicara yang membawa "Topeng Baja" di wajahnya, bukan yang benar terbuat dari logam, tapi sebuah topeng ekspresi yang padat dan tak terlukis.
Topeng itu mampu menutupi ribuan luka yang tak kasat mata, semua rasa sakit, kecewa, dan kesepian yang pernah merajut dirinya dari dalam.
Dia berjalan dengan langkah yang tenang tapi terisolasi, seolah hidupnya adalah panggung yang hanya dia yang main.
Tanpa suara yang bisa mengungkapkan apa-apa, dia lebih bergantung pada topeng itu-wajahnya selalu netral, tak ada senyum yang tulus, tak ada air mata yang terjatuh.
Hanya matanya yang berwarna coklat tua seperti tanah setelah hujan, yang kadang menyelinapkan kilatan perasaan sebelum topeng itu cepat menutupnya lagi.
Orang-orang terkadang melihatnya sebagai sosok yang dingin, terasing. Tapi mereka tidak tahu, topeng baja ekspresi itu adalah pelindungnya dari dunia yang pernah menyakiti dia berkali-kali.
Di baliknya, tersembunyi cerita tentang kehilangan yang tak terucap, kekerasan yang dia rasakan dengan tubuh dan hati, dan harapan yang sudah hampir padam tapi masih bersinar samar di sudut jiwanya.
Setiap hari, dia mengenak topeng itu seperti baju pelindung, supaya tidak ada yang bisa menyentuh luka yang masih basah.
Todos los derechos reservados