Di padang pasir yang bergolak, nama Razmireth hanya menghadirkan bisik-bisik kebencian. Dari singgasana emas, lahirlah putra sulung yang tak pernah benar-benar diterima-anak haram yang diangkat menjadi putra mahkota, merebut tempat yang seharusnya diwarisi putra sang permaisuri.
Mata yang selalu dipandang dengan curiga, langkah yang disambut dengan diam, dan senyum yang tak pernah dipercaya.
Namun, takdir gemar mempermainkan hati.
Di seberang laut, di negeri Elysion yang disinari marmer putih dan gemerincing lyra, seorang putri berjalan bagai cahaya hidup. Di setiap pasar, namanya adalah doa. Di setiap pesta, tawanya adalah musik. Ia bukan hanya darah biru, ia adalah denyut nadi rakyatnya.
Dan ketika mata sang pangeran-yang dicibir seperti langit asing-bertemu dengan tatapan sang putri-yang dipuja bagai matahari pagi-dunia seakan berhenti bernafas.
Apa jadinya bila kebencian berabad-abad dikoyak oleh satu pandang mata?
Apa jadinya bila seorang anak haram yang menjadi mahkota meraih tangan cahaya Elysiones?
Di antara bayangan istana dan sinar marmer kuil, cinta mereka bukan sekadar rahasia-ia adalah bara yang bisa menyalakan perang, atau api suci yang sanggup meleburkan dua kerajaan menjadi satu.
***
Di bawah terik padang pasir, Sorayel berdiri bagai bayangan yang dipahat dari tanah gurun-kulitnya coklat, rambutnya hitam pekat, namun matanya biru seperti langit yang tak seharusnya ada di Razmireth. Mata itu selalu jadi alasan rakyatnya membenci, tanda bahwa ia lahir dari rahim seorang asing.
Di seberang laut, Evadne melangkah di jalan marmer putih, kulitnya berkilau bagai mutiara, rambutnya selembar sutra emas yang menari ditiup angin. Matanya, sehangat amber, membuat siapa pun yang menatapnya merasa sedang menatap cahaya.
Dan ketika biru gurun itu bertemu dengan keemasan marmer, dunia pun seakan berhenti. Gurun dan laut, api dan langit, dua warna yang seharusnya tak pernah menyatu-mendadak menyimpan takdir dalam satu pandangan.
Cerita ini ada di paijo juga.
---
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih.
Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya.
Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya.
Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang.
Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.