Harapan Pertama

Harapan Pertama

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 10, 2025
Siapa bilang jadi anak pertama itu beruntung? dapat kasih sayang yang masih utuh dari orangtua? anak yang diharapkan kehadirannya? Hahaha .. Tara Anindita, anak pertama dari dua bersaudara.Kluagra itu 'Rumah' ternyaman bagi kebanyakan orang, begitupun seperti yang dirasakan oleh gadis yang kerap disapa Ara . Tetapi setiap orang pasti memiliki luka. --- Prolog Suara azan subuh berkumandang dari masjid kecil di ujung jalan. Dia duduk di sudut kamar kosannya yang gelap, wajahnya kusut dengan mata sembap. Al-Qur'an tergeletak di depannya, terbuka pada halaman yang entah kapan terakhir kali dia baca. "Aku sudah terlalu jauh, Ya Allah. Terlalu jauh..." bisiknya pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, tenggelam dalam tangis yang ia coba tahan. Bayangan masa lalu membayangi pikirannya-seorang anak kecil berwajah lugu tapi penuh kenakalan, seorang remaja yang sering melanggar aturan di pesantren, hingga wanita dewasa yang kini berada di titik terendah hidupnya. Dia tahu, doa yang dulu sering ia lantunkan di sepertiga malam-agar Allah selalu membawanya kembali ke jalan yang benar-adalah satu-satunya harapan. Tapi kini, apakah Allah masih mendengar? Dia memejamkan mata, mengingat kembali malam-malam panjang di pondok pesantren, saat dia bersujud dan meminta arah. Suara azan kini menghilang, berganti dengan kesunyian yang menelan seluruh ruang di hatinya. "Sejauh apa pun aku tersesat, kembalikan aku pada jalan-Mu Ya Allah..." Dia berjanji pada dirinya sendiri: Jika Allah memberinya kesempatan, dia akan memperbaiki semuanya. Tapi untuk itu, dia harus mulai dari mana? --- Update Setiap Hari (Insyaallah)😇
All Rights Reserved
#102
perempuantangguh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elira, yang Tak Pernah Dipanggil Pulang
  • Anak Angkat & Keluarga Posesif
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • Cinta Dalam perjalanan Takdir (Tidak Lanjut)
  • Kara: I Left God at The Door
  • Angel To Raya (END)
  • Air Mata Cinta
  • Penakluk Iman & Hati ( END )
  • Puing luka

Elira bukan anak biasa. Ia tumbuh dalam keheningan, dipeluk oleh kecerdasan yang tak dimengerti, dan tubuh yang selalu menjadi sasaran cemooh. Sejak kecil, ia tahu: dunia tak ramah, dan rumah bukan tempat berlindung. Ketika teman menjauh karena rasa tidak nyaman, dan ketika keluarga sendiri hanya melihatnya sebagai beban, Elira tetap berdiri. Ia tidak diantar saat pertama kali masuk pesantren. Tidak dijemput saat ia jatuh. Ia hanya ditemani satu hal yang tak pernah mencacinya: Al-Qur'an. Namun luka demi luka terus menggerogoti tubuh dan jiwanya. Hingga suatu hari, tubuh itu tak lagi kuat. Jiwa itu mulai retak. Tapi bukan kehancuran yang datang-melainkan cahaya. Di tengah kesurupan, sakit yang berulang, dan tubuh yang tak pernah benar-benar sembuh... Elira menemukan panggilan dari langit. Kisah ini bukan hanya tentang perjuangan seorang anak. Ini tentang bagaimana seseorang bisa tetap memilih untuk mencintai Tuhan, ketika tak ada satu manusia pun yang memilih untuk mencintainya kembali. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines