We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Erlangga Dio Kenan

Erlangga Dio Kenan

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 31, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Raquel duduk di bangku taman kampus, menatap langit yang mulai gelap. Festival musik udah selesai, suara tepuk tangan dan sorakan masih terdengar dari aula utama. Kenan datang dengan santai, menjatuhkan diri duduk di sampingnya sambil menyeruput minuman kalengnya. "Lo sadar nggak sih, kita dari awal tuh kayak Tom & Jerry?" Raquel nyengir sambil melipat tangan di dada. "Yaelah, nggak ada perumpamaan lain yang lebih keren apa?" "Nggak ada. Soalnya emang bener, tiap hari ribut, tiap hari debat, tapi ujung-ujungnya deket juga." Raquel menghela napas sambil nendang-nendang batu kecil di bawah kakinya. "Yaudah sih, kalau lo mau ngaku suka, ngomong aja. Nggak usah muter-muter pakai analogi kartun segala." Kenan melirik Raquel dengan senyum tipis. "Lo baper ya?" Raquel mendelik. "Ya nggak lah! Gue cuma capek pura-pura nggak ada apa-apa." Kenan tertawa dengan santainya narik tangan Raquel dan menggenggamnya. "Oke, gue suka lo. Udah dari lama, cuma seru aja ngeliat lo sotoy tiap hari." Raquel terdiam sebentar, tapi ujung-ujungnya malah ketawa. "Anjir, gue kira lo bakal lebih romantis dari ini." "Udah bagus gue ngomong langsung, biasanya mah gue biarin lo nebak-nebak sendiri." Raquel menggeleng sambil ketawa. "Yaudah, deal. Kita jadian, tapi dengan syarat." Kenan menaikkan alis. "Syarat apaan?" Raquel menyeringai. "Lo harus berhenti jadi anak basket yang males rebahan, dan mulai lebih sering nemenin gue ke kafe." Kenan mendesah dramatis. "Gila, ini deal atau perbudakan?" Raquel tertawa. "Terserah. Mau ambil atau enggak?" Kenan menatapnya sebentar, lalu nyengir. "Yaudah, ambil lah. Kalau enggak, ntar ada cowok lain yang masuk, kan ribet."
All Rights Reserved
#393
kuliah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • Naughty Nanny
  • 36 days with you {saida} [End]
  • RAVASYA [END]
  • Misi Kalisa (End)
  • Capricorn
  • Keano
  • BarraKilla

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines