Kelulusan SMA Abimanyu Rajendra menandai permulaan babak baru dalam hidupnya, namun bukan babak yang diimpikannya. Kejatuhan ekonomi keluarga yang mendadak, menghancurkan cita-citanya untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi walaupun beasiswa kuliah telah diraih. Kekecewaan mendalam menyusul ketika kekasihnya menyatakan bahwa cintanya hanya sebuah kepalsuan demi urusan pribadi. Persahabatan yang selama ini ia jaga pun berubah menjadi duri yang menusuk, dipenuhi rasa iri yang terselubung. Ironisnya, kasih sayang orang tua yang selalu ia harapkan tak kunjung ia dapatkan, perhatian mereka lebih tercurah pada adiknya dan kesibukan pekerjaannya. Prestasi dan nilai-nilai akademis yang ia raih dengan jerih payah seakan tak bermakna di mata mereka.
Menjadi anak pertama di tengah derita, mengharuskan Abimanyu meninggalkan mimpi-mimpinya untuk menghadapi realita kehidupan yang sebenarnya. Doa yang selama ini ia langitkan agar orang tuanya memberi harapan padanya terwujud, meski dengan jalan yang sangat berbeda. Abimanyu akan bekerja keras untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di tengah mentalnya yang terganggu, menempa dirinya dari seorang pemuda yang merindukan kasih sayang menjadi pribadi yang dewasa dan tegar. Namun, mampukah Abimanyu melewati semua rintangan hidupnya ke depan?
"Ma, Pa, Abi memang anak pertama. Tapi Abi juga butuh bimbingan dari kalian semua."
"Aku yang bakal bawa Dhega."
"Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak?
"Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?"
Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama.
Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah.
Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya.
"Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."