SENGKALA

SENGKALA

  • WpView
    Reads 273
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 15, 2025
Baca aja dulu siapa tau nyantol hihi. "bunda? kala boleh peluk bunda?" "ayah? Kala juga mau main sama ayah kaya bang Gala." ucap bocah berusia tujuh tahun itu, yang melihat keluarga nya yang begitu bahagia tanpa dirinya. Anak itu dewasa oleh keadaan, dan harapan yang tak pernah tersampaikan. Hingga usianya 16 tahun, dan sekarang ia mengerti bagaimana kehidupan yang sebenarnya berjalan. Ini tentang Sengkala. Anak laki-laki yang berjuang untuk tetap hidup di tengah keluarga yang bahkan menganggap nya hanya sebuah bayangan hitam putih. mohon bantuan komen dan vote nya. Jangan jadi pembaca gelap ya!!! dilarang plagiat!!!! ga baik buat otak^^ mohon maaf jika ada kesamaan nama dalam penokohan karena itu di luar prediksi saya semoga bahagia dengan cerita ini^^
All Rights Reserved
#2
sengkala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • NALA KEENARA [Hiatus]
  • Light, Azkiel
  • Bentala
  • NAKALA DAN TAWANYA
  • KEHIDUPAN BARU,TANTANGAN BARU
  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • BLUE HOUR (Rona Senja di Langit Biru)
  • YANA&GALANG [Tamat]
  • ARUNA STORY: Feel Again [Lengkap]

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines