We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
TWELVE
  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 14, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Dua anak bersepupu ini punya keunikan yang bikin semua orang terheran-heran. Mereka mirip banget, bahkan bisa dibilang kayak kembar. Setiap kali bertemu, orang-orang yang baru melihat mereka sering bingung mencari perbedaan di antara keduanya. Rasanya, mereka selalu merasakan hal yang sama, seolah hidup di dalam dunia yang seirama. "Hmm... kita ini kembar gak sih, Riss? Soalnya muka kita bener-bener mirip," tanyaku, dengan ekspresi yang menggambarkan rasa penasaran. "Nggak tahu deh, aku juga bingung. Kok bisa ya muka kita sama, suara kita juga mirip, padahal kita cuma sepupu?" jawab Rissa, menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Di antara tawa dan teka-teki, kami berdua melanjutkan obrolan, merencanakan apa yang akan kami lakukan berikutnya. Serasa terjebak dalam permainan yang mengasyikkan, keanehan kami ini menciptakan ikatan yang tak biasa. Sungguh, dunia ini penuh dengan misteri, dan salah satunya adalah persahabatan kami yang tak terduga ini
All Rights Reserved
#96
pembohong
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • apa itu rumah???
  • luka dan duka [END]
  • Suarasa
  • Yang Terlupakan
  • PERCAYA? [END]
  • TWO SIDES OF LIFE [ end ✓ ]

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines